ANDRIAS HAREFA

Info: 021-2210 3478; Manager: 0815 8963 889

Cataha #4: Pengalaman Lapangan

Articles
Cataha

Waktu latihan lari kemarin pagi, aku perhatikan tiga hal terjadi dalam diriku. Pertama, awal lari 250 meter terasa paling berat. Rasanya sudah mau berhenti saja. Tetapi setelah aku mengatur nafas agar berirama dengan lebih teratur, mulailah terasa lebih mudah. Kedua, setelah lari 2 km dan mengambil nafas lewat mulut, kerongkonganku terasa sedikit perih karena kering. Aku terbatuk sedikit sebelum akhirnya bisa melanjutkan latihan. Ketiga, ketika aku mau beralih ke jalan cepat, kakiku seperti tetap mau berlari secara refleks, sehingga harus kuatur bertahap ibarat pesawat mau landing dan berhenti, tak bisa buru-buru.

Pengalaman lapangan ini mengajarkan aku bahwa acapkali memulai sesuatu yang baik dengan tujuan yang mulia pun tidak selalu mudah di awalnya. Banyak ide baik tak berhasil dieksekusi karena kita tergoda untuk minta kemudahan, mau cepat dapat dukungan dan pujian. Kita berpikir logis dengan memegang asumsi: kalau ide dan niatnya baik mestinya Tuhan memberikan jalan tol untuk merealisasikan hal itu. Faktanya tidak demikian. Ide dan gagasan baik perlu menghadapi ujian juga ternyata. Dan itu baik bagi tumbuh kembangnya ide dan niat baik itu sendiri. Tak ada ide yang lahir sempurna; tak ada bayi yang lahir berlari (kan ngeri lihat bayi lahir berlari hahaha). Hidup yang tak pernah diuji tak layak di jalani, kata mbah Socrates. Halah kok sok keren bingits pake ngutip si mbah filsuf segala hahaha.

Pelajaran lainnya adalah perlunya penyesuaian diri. Tenggorokanku yang kering dan terasa sedikit perih boleh jadi karena kurang air. Ia belum terbiasa. Ia memberikan peringatan agar aku tidak ngoyo, tidak memaksakan diri. Jika peringatan ini aku abaikan, boleh jadi hasilnya adalah luka. Begitu juga dalam interaksi antar insan. Kita perlu belajar menumbuhkan toleransi, misalnya. Tak bisa dipaksakan langsung jadi. Belajar saling kenal dulu, belajar menerima perbedaan sebagi rahmat,lalu saling mencoba berempati jika ada beda pendapat (atau beda pendapatan), menempatkan diri dalam posisi lawan bicara, posisi orang yang kita kritik, dan seterusnya.

Begitulah rupanya nilai dari latihan langsung di lapangan. Pelajarannya tak ada di buku-buku. Tapi bisa dicatat untuk kelak dijadikan buku hehehe (dasar otak penulis, apapun mau dibukukan, padahal industri buku cetak sedang sekarat berat dan e-book belum cukup marak untuk menghasilkan royalti yang enak).

Btw pembaca, apakah catatanku ini berguna bagi dirimu?

Tabik lari …

*) Agar karier anda ikut lari, ikuti pelatihan di www.mitrapembelajar.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *