Respons Pembeda

July 7, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship


Untuk waktu yang cukup lama saya sering memikirkan pertanyaan sederhana ini: apa sih faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan trainer dan pembicara publik yang biasa-biasa saja?

Faktor latar belakang pendidikannya bisa saja muncul sebagai jawaban pertama atas pertanyaan tersebut. Bukankah orang-orang yang terpelajar dan bergelar sarjana, magister, master, apalagi doktor bidang studi tertentu banyak yang menjadi trainer dan pembicara publik yang handal? Mungkin ada benarnya. Namun tak sulit mencari contoh orang-orang bergelar yang merupakan pembicara membosankan.

Faktor kecerdasan emosionalnya mungkin menjadi jawaban lain. Mereka yang punya kontrol diri baik dan pandai membawakan diri dalam pergaulan sosial, tentu akan menjadi trainer dan pembicara publik yang handal. Saya sepakat. Namun cukup mudah untuk menyebutkan nama sejumlah kawan yang luas pergaulannya, memiliki jaringan sosial luar biasa, namun sebagai trainer dan pembicara publik, ia tidak nampak memesona.

Bagaimana dengan faktor sertifikasi dalam bidang yang spesifik, seperti sertifikasi MBTI, DISC, atau NLP dan berbagai variannya? Bukankah mereka yang memiliki sertifikasi dalam bidang-bidang yang terkait ilmu psikologi dan ilmu syaraf terapan; lebih khusus lagi mereka yang mempelajari jenis-jenis kecenderungan kepribadian dan jurus-jurus komunikasi intrapersonal maupun interpersonal, bahkan ilmu pemrograman otak dan pikiran bawah sadar; seharusnya menjadi trainer dan pembicara publik yang luar biasa? Seharusnya demikian, saya kira. Masalahnya, saya mengenal secara pribadi kawan-kawan dengan segepok sertifikasi internasional dalam bidang-bidang tersebut, yang tidak menunjukkan kualitas prima ketika memainkan perannya sebagai trainer dan pembicara publik. Sebagian mengajarkan teknik-teknik komunikasi dengan cara-cara yang tidak komunikatif.

Untuk waktu tertentu, saya beranggapan bahwa semua jawaban di atas ada benarnya. Persoalannya adalah saya merasa tidak puas dengan semua jawaban itu. Saya mencari jawaban yang lebih baik; jawaban yang tidak saja akan memenuhi rasa ingin tahu saya secara intelektual, tetapi juga yang akan menolong saya untuk bisa memperbaiki diri. Saya berkeyakinan bahwa—sekalipun saya memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun—selalu ada hal yang bisa saya perbaiki dalam diri saya untuk memainkan peran sebagai trainer dan pembicara yang lebih baik.

Suatu hari, saya menerima kiriman cerita klasik Cina Kuno yang justru memberikan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini. Cerita itu begitu tegas menjawab faktor terpenting apa yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja.

Ceritanya adalah sebagai berikut :

Ada seorang lelaki yang menjelang ajalnya memberikan warisan masing-masing sebuah toko kelontong dan sebuah wasiat berupa nasihat penting kepada kedua anaknya. Disaksikan oleh istrinya, ia berpesan, “Anakku, jika kalian ingin membahagiakan aku di alam sana, maka lakukanlah dua pesanku ini. Pertama, jangan pernah menagih utang kepada orang yg berutang kepadamu; dan kedua, jika kalian pergi ke dan pulang dari toko yang aku wariskan kepadamu, jangan sampai wajahmu terkena sinar matahari.” Dengan pesan yang tak galib itu, ia pun wafatlah.

Waktu berjalan terus. Dan lambat laun ada hal yang menarik perhatian janda almarhum, ibu kedua anak lelaki tadi. Ia menyaksikan bagaimana dari tahun ke tahun anaknya yang sulung bertambah kaya, sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Mereka mendapatkan warisan sebuah toko yang nilainya relatif sama. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pada suatu hari, sang Ibu menanyakan hal itu kepada si bungsu yang sedang berkunjung ke rumahnya. Si bungsu pun menjawab, “Ini karena aku mengikuti pesan almarhum ayah. Ayah berpesan bahwa aku tidak boleh menagih utang kepada orang yang berutang kepadaku; akibatnya modalku susut karena orang tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Ayah juga berpesan supaya kalau aku pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya, tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya aku bisa berjalan kaki saja. Ini membuat pengeluaranku bertambah banyak. Jadi, semua ini terjadi karena aku menaati pesan Ayah”. Si Ibu terdiam dan tak tahu harus berkata apa.

Hari berikutnya ia menemui anak yang sulung dan bertanya bagaimana ia bisa bertambah kaya dari tahun ke tahun. Ibu yang semakin tua ini ingin tahu rahasia sukses si sulung agar bisa diajarkan kepada si bungsu. Si sulung pun menjawab,

“Aku berhasil karena menaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya aku tidak menagih kepada orang yang berutang kepadaku, maka aku hampir tidak pernah mengutangi orang lain, sehingga tak perlu menagih. Ayah juga berpesan, agar aku tidak sampai terkena sinar matahari ketika berangkat ke toko atau pulang dari toko ke rumah. Karena itu aku berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Tokoku buka paling pagi dan tutup paling malam, sehingga bisa melayani lebih banyak pembeli dan menjadi laris. Jadi semua ini aku lakukan untuk menaati pesan almarhum Ayah.”

Bagi saya, cerita itu memberikan jawaban yang lebih baik atas pertanyaan apakah faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja. Dan jawaban itu adalah: respons mereka terhadap klien dan audiens yang mereka hadapi.

Trainer dan pembicara publik yang jempolan terlatih untk selalu memberikan respons terbaik mereka atas permintaan klien-kliennya. Mereka memikirkan kepentingan kliennya dengan sungguh-sungguh dan tidak sungkan memberikan masukan terbaik agar kepentingan sang klien terakomodasi dengan baik. Mereka tidak ragu untuk menolak permintaan klien, jika mereka tahu bahwa apa yang diharapkan klien bukan hal yang bisa mereka berikan. Tak jarang mereka merekomendasikan temannya yang dianggap lebih kompeten untuk bisa memenuhi kebutuhan dan kepentingan kliennya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh trainer dan pembicara publik yang jempolan terhadap audiens yang mereka hadapi. Mereka melatih diri untuk peka membaca situasi dan keadaan psikologis audiens yang mendengarkan mereka; peserta yang sedang mereka latih. Mereka membaca bahasa tubuh dari mayoritas audiensnya dan memberikan respons terbaiknya atas situasi yang berkembang dari waktu ke waktu. Audiens yang ngantuk mereka segarkan dengan humor atau gerakan yang menghilangkan kantuk. Audiens yang mulai bosan mereka antusiaskan kembali dengan lagu atau ajakan untuk melakukan hal-hal tertentu sebagai energizer. Audiens yang sinis mereka tanggapi dengan positif dan kreatif agar menjadi kooperatif.

Sama seperti dua orang anak yang mendapat warisan dan wasiat berupa pesan yang sama dari ayah yang sama, namun yang menjadikan mereka miskin atau kaya bukanlah warisan atau pesan ayahnya. Yang menjadikan mereka miskin atau kaya adalah bagaimana mereka merespons pesan terakhir ayahnya itu sesuai dengan makna yang mereka cerna dengan menggunakan semua potensi terbaiknya.

Demikian juga para trainer dan pembicara publik yang hebat dan yang biasa-biasa saja akan menghadapi klien dan audiens yang memiliki banyak persamaan dimana-mana. Klien dan audiens yang sama-sama menuntut yang terbaik dari mereka; klien dan audiens yang tidak suka dibiarkan mengantuk atau bosan dengan kalimat-kalimat yang menjemukan; klien dan audiens yang ingin dirinya diperhatikan, dihargai, bahkan disanjung dengan jujur; klien dan audiens yang tidak suka diremehkan apalagi dianggap bodoh dan dipermalukan; klien dan audiens yang kadang menyenangkan dan kadang menjengkelkan; klien dan audiens yang sebagian cerdas dan sebagian biasa; klien dan audiens yang ingin menonjol dan yang kalem; klien dan audiens yang membutuhkan suntikan semangat; klien dan audiens yang ingin meningkatkan kemampuan dirinya, yang ingin menjadi lebih percaya diri; klien dan audiens yang ingin lebih mampu berkomunikasi; dan seterusnya.

Jadi, saya percaya bahwa faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja adalah respons yang mereka berikan kepada klien dan audiensnya dan aneka ragam situasi. Mereka terlatih untuk memberikan respons terbaiknya; respons yang menunjukkan semua kemampuan dirinya; entah ia berpendidikan tinggi atau tidak; entah mereka dianggap memiliki kecerdasan emosi atau tidak; entah mereka menunjukkan kecerdasan linguistik atau tidak; entah mereka memiliki sertifikasi ini dan itu atau tidak; dan seterusnya. Respons terbaik pada setiap situasi dan kondisi nyata, itulah faktor pembeda terpenting.

Sejak saya memahami hal ini, maka saya tidak pernah lagi diganggu oleh pertanyaan di awal tulisan ini. Saya hanya perlu membuat sebuah keputusan yang kuat dalam diri saya bahwa saya akan belajar memberikan makna dan respons terbaik kepada klien dan audiens yang saya layani. Sekadar merespons tidaklah cukup. Respons terbaik, itulah yang ingin saya berikan kepada klien dan audiens yang mengundang saya melayani mereka.

Anda setuju, bukan?

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Telepon SEKARANG ke 021-460 5757; 021-3260 3383; Hendri 0815 8963 889
www.pembelajar.com; www.proaktif.biz; www.andriasharefa.com

Sudah dilihat sebanyak: 27

Trainer Rp 7 M

March 30, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship

“Berapa sih penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer profesional di Indonesia?,” tanya seorang kawan dengan nada meremehkan profesi trainer. Ia bekerja sebagai pengusaha skala menengah dengan karyawan 100-an orang. Sebagai pemilik sebuah usaha dagang (trading company), ia sungguh tak paham siapa yang mau membayar jasa pelatihan yang ditawarkan para trainer. Baginya, trainer itu seperti pengajar sekolah atau dosen yang penghasilannya tidak menjanjikan untuk hidup secara memadai (menurut ukurannya, tentu). Saya menanggapi pertanyaannya dengan tersenyum. Belum tahu dia rupanya.

Dalam kesempatan lain, seorang pimpinan lembaga pengorganisasi pelatihan (training organizer) di Surabaya, berbisik pada saya, “Eh sudah tahu belum, trainer itu tahun lalu menambah kekayaannya sekitar Rp 7 M hanya dari kegiatan pelatihan saja. Rata-rata sebulan ia bicara di 15 pertemuan di berbagai kota besar dengan honor Rp 35 juta sekali bicara selama 3-4 jam.” Saya menanggapi bisikannya dengan senyuman. Sudah tahu dia rupanya.

Kawan lain, yang sudah fokus menafkahi keluarganya dari bisnis bicara (pelatihan) selama lima tahunan, suatu kali ditelepon mantan atasannya 7-8 tahun silam. Singkat cerita, sang mantan atasan di perusahaan lama yang sudah pindah ke perusahaan baru dan sekarang menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan multinasional itu, memerlukan manajer senior untuk bidang teknologi dan informasi. Terkesan atas kinerja kawan saya yang menjadi stafnya di masa lalu, maka ia ingin kembali mempekerjakan kawan saya itu dengan posisi, gaji, dan fasilitas yang jauh lebih baik. Kawan saya merespons ajakan tersebut dengan berkata mantap, “Maaf ya pak. Bukan apa-apa. Tawaran gaji yang bapak sebutkan tadi adalah honor yang saya terima sekali bicara selama 2 jam di pertemuan-pertemuan perusahaan yang mengundang saya. Jadi pasti tidak menarik buat saya. Dan lagi saya sudah bosan pak mengikuti ritme kerja tak masuk akal, bangun pagi menerobos kemacetan, dan pulang malam dengan masalah yang sama juga bertahun-tahun. Sekarang saya bebas menentukan jam kerja dan penghasilan tidak kalah dengan manajemen puncak perusahaan terkemuka. Maaf lho pak, bukan sombong, cuma sharing saja.” Mantan atasannya langsung bengong dan terkagum-kagum. Mendengar cerita itu, saya menanggapinya dengan senyuman. Sudah paham dia rupanya.

Cerita yang saya pungut dari ketiga kawan di atas cukup mewakili apa yang terjadi dengan profesi trainer hari-hari ini (saat tulisan ini dibuat). Sebagian besar orang masih belum tahu bahwa trainer mulai berkembang menjadi profesi di tanah air. Berkembang dalam arti kehadirannya mulai dirasakan, meski belum cukup dipahami. Ia muncul dan menjadi subur bersamaan dengan derasnya arus pembelajaran berkelanjutan. Makin banyak perusahaan menyediakan anggaran khusus untuk proses pembelajaran pegawainya. Secara pribadipun makin banyak orang yang bersedia mengeluarkan uang dari kantong pribadinya untuk ikut seminar dan pelatihan pengembangan diri dan kompetensi.

Munculnya sejumlah nama kondang sebagai pembicara publik dan trainer di tingkat nasional telah mengangkat citra profesi yang dua dekade silam masih samar-samar terdengar. Sebut saja sejumlah nama besar seperti Hermawan Kartajaya, Handi Irawan, Gede Prama, Rhenald Kasali, Mario Teguh, RH Wiwoho, Jansen H. Sinamo, Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Anthony Dio Martin, Arvan Pradiansyah, dan sebagainya. Masing-masing membangun brand-nya sendiri, entah sebagai World Marketing Guru, Motivator No.1 Indonesia, Guru Etos Indonesia, Indonesia’s Favorite Trainer, Pelatih Sukses No.1, Pakar Perubahan, dan lain-lain. Wajah, suara, karya tulis mereka terlihat, terdengar, dan terpampang di berbagai media cetak (koran, majalah) maupun elektronik (televisi, radio, handphone, dan internet).

Melihat kiprah nama-nama besar itu dijagat nasional, mulai banyak orang muda yang kepincut untuk bisa mencantumkan namanya sebagai trainer atau pembicara publik tingkat nasional. Penampilan fisik para trainer dan pembicara publik itu umumnya mengesankan bahwa mereka memperoleh imbalan finansial yang tidak kecil atas jasa yang diberikannya. Sebagian orang menjadi sangat yakin bahwa profesi trainer dan pembicara publik telah hadir dan pantas dijadikan cita-cita bagi kaum muda Indonesia. Dengan honor bicara sangat variatif, dari sekadar pengganti uang bensin Rp 500.000,- sampai dengan Rp 70.000.000,- untuk sekali bicara antara 50 menit sampai 8 jam, profesi ini menjadi pantas untuk diperhitungkan.

Sebagai Trainer Coach yang dianggap senior oleh kawan-kawan, saya sering ditanyai orang: sesungguhnya berapa besar sih potensi penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer atau pembicara publik pemula di Indonesia?; apa benar orang bisa menjadi miliarder dalam waktu relatif singkat melalui profesi ini?; mengapa sejumlah trainer dan pembicara publik yang cukup dikenal, rumah dan mobilnya nggak bagus-bagus amat, sementara yang lainnya benar-benar hidup berkelimpahan nampaknya?

Ketiga pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang definitif (pasti). Banyak faktor mesti dikaji dengan teliti untuk mendapatkan jawaban yang akurat. Namun bisa dikatakan bahwa antara trainer pemula dengan trainer madya, dan trainer senior memiliki rentang penghasilan yang sangat lebar. Latar belakang seorang trainer bisa amat menentukan potensi penghasilan yang akan diperolehnya. Mereka yang berlatang belakang akademis akan berbeda dengan mereka yang berlatar belakang sebagai pebisnis atau manajemen puncak perusahaan terkemuka. Mereka yang bermain di sektor privat (perusahaan) akan berbeda pula dengan mereka yang terjun ke sektor publik (media massa, BUMN, pemerintah, dan organisasi politik).

Segala macam perbedaan itu terutama terjadi karena Indonesia memang belum memiliki semacam lembaga yang punya otoritas untuk menetapkan standar honor seorang trainer dan pembicara publik. Atas kenyataan ini ada kawan-kawan yang sedang berjuang untuk membentuk asosiasi pembicara atau asosiasi trainer dan sejenisnya untuk mengatur hal semacam ini dengan meniru apa yang sudah ada di negara lain. Sementara sebagian kawan yang lain berpendapat lembaga semacam ini memang tidak diperlukan dan biarlah pasar saja yang menyeleksinya secara alamiah.

Meski tidak ada patokan baku yang bisa digunakan untuk menentukan kisaran penghasilan seorang trainer pemula, namun secara “sembrono” saya suka mengatakan profesi trainer membuka peluang untuk memiliki penghasilan dalam rentang Rp 70 juta sampai Rp 7 miliar per tahun. Angka ini tidak jauh berbeda dengan profesi lain yang juga baru hadir di Indonesia dalam satu dekade terakhir, yakni: Financial Planner. Sebab sebagian Financial Planner yang saya kenal secara pribadi memainkan peran juga sebagai trainer dalam soal perencanaan keuangan.

Bisakah seseorang menjadi miliarder secara cepat lewat profesi trainer? Ini bergantung pada “seberapa cepat” yang dimaksud. Bila cepat itu diartikan dalam hitungan hari, mungkin tidak masuk akal. Namun jika cepat itu diartikan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, secara umum saya asumsikan bisa walau tidak mudah. Yang paling mungkin adalah menjadi miliarder baru dengan menekuni profesi trainer selama kurang lebih 10-15  tahun.

Sependek pengetahuan saya, tidak semua trainer, yang namanya relatif terkenal sekalipun, memiliki penghasilan tahunan sampai 10 digit (miliaran). Sementara gaya hidup mereka pun sangatlah bervariasi. Ada trainer yang cukup kondang namun tidak punya rumah, meski punya uang lebih dari satu miliar di salah satu cabang Bank BCA. Dengan tekad mengumpulkan uang satu miliarnya yang pertama, trainer tersebut untuk sementara waktu memilih tinggal di rumah kontrakkan, dan menggunakan jasa transportasi umum untuk bepergian. Ada juga trainer yang punya rumah dan mobil mewah bahkan sebelum ia menekuni profesi sebagai trainer, sebab ia memiliki bisnis lain.

Akhirnya, berapapun penghasilan yang mungkin dicapai oleh seorang trainer di Indonesia, tulisan ini ingin menegaskan bahwa ia telah hadir sebagai profesi yang pantas untuk diperhitungkan.
Ada yang tertarik?

————————————————————————————————-
Catatan khusus: profesi trainer (pelatih) dan public speaker (pembicara publik) sesungguhnya tidaklah sama persis. Ada sejumlah perbedaan yang bisa dikemukakan, namun untuk kepentingan tulisan kali ini, keduanya saya anggap sama dalam arti sama-sama menawarkan jasa bicara. Saya akan membahas perbedaannya nanti dalam tulisan tersendiri.
————————————————————————————————-

*) Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Sudah dilihat sebanyak: 32

Sertifikasi Trainer

March 23, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, profesi trainer atau instruktur pelatihan dibidang soft-people-skills nyaris tidak dikenal oleh publik di Indonesia. Itu sebabnya saya tak terlalu heran ketika ayah saya kebingungan memahami jenis pekerjaan yang saya mulai tekuni di tahun 1990. Waktu itu saya menjadi calon instruktur di Dale Carnegie Training Indonesia. Selama kurang lebih 18 bulan saya mengikuti proses persiapan untuk memperoleh sertifikasi awal sebagai instruktur berlisensi. Lalu saya diuji melalui forum konferensi instruktur yang dipimpin trainer instruktur senior dari Hong Kong Dennita Connor dibantu seorang calon trainer instruktur dari Manila, Filipina, yang saya lupa namanya.

Hasilnya, saya lulus dengan angka terbaik di angkatan tersebut. Saya juga menjadi instruktur termuda di Indonesia kala itu. Rekomendasi yang diberikan Dennita Connor adalah yang terbaik: saya hanya perlu mengajar tandem dua kali saja dengan instruktur senior sebelum diijinkan mengajar sendiri (solo instructor) atas nama Dale Carnegie Training. Dengan lain perkataan, saya dianggap telah memenuhi standar internasional untuk menggunakan metodologi pelatihan yang diciptakan almarhum Dale Carnegie (1888-1955) sejak ia memulai kursus Public Speaking for Business Men di tahun 1912.
Sebagai instruktur berlisensi Dale Carnegie Training, di awal tahun 1990-an jasa pelatihan yang saya fasilitasi dijual dengan harga 425 dolar Amerika per jam. Tarif itu sangatlah luar biasa. Sebagai pembanding, pada saat yang sama, Guru Besar Hukum Internasional yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, memberikan konsultansi hukum dengan honor 325 dolar Amerika per jam. Honor saya dibayar lebih tinggi dari orang sekaliber Prof. Mochtar, bukan karena kehebatan pribadi saya, melainkan karena menggunakan brand Dale Carnegie Training, lembaga pelatihan terkemuka di dunia yang beroperasi di 70-an negara. Brand itu menunjukkan semacam jaminan standar kualitas yang dikenal dalam industri pelatihan di mancanegara. Jadi, honor saya terkait dengan lisensi/sertifikasi yang saya miliki dari sebuah brandname yang dihormati.

Jika melihat perjalanan panjang karier saya sebagai trainer, yang memulai semuanya dari level terendah, dan membandingkannya dengan trainer-trainer muda yang bermunculan bak jamur di musim penghujan akhir-akhir ini, saya acap tertegun. Semakin hari nampaknya semakin mudah orang memperoleh sertifikasi atau lisensi sebagai trainer. Asalkan punya uang yang cukup, mereka bisa ikut program sertifikasi di dalam dan luar negeri. Lalu dalam 1-2 minggu, mereka dengan gagah berani menyebut dirinya sebagai trainer, praktisi dengan sertifikasi ini, master praktisi itu, business coach, master trainer, dan berbagai istilah keren lainnya. Lebih parah lagi, ada juga program sertifikasi trainer yang hanya perlu waktu 2-3 hari saja. Benar-benar ajaib.

Jaman memang telah berubah. Pada paruh kedua dekade 70-an sampai paruh pertama dekade 90-an, seingat saya hanya ada tiga lembaga pelatihan—semuanya dari Amerika—yang dikenal sebagai pemberi sertifikasi/lisensi untuk menjadi trainer dalam bidang soft-people-skills (termasuk self development, personality development, communication, personal leadership, dsb). Mereka inilah yang pada hemat saya meletakkan fondasi bagi tumbuh dan berkembangnya karier seorang trainer berlisensi di negeri ini. Alumni dan mantan certified instructors dari ketiga lembaga ini pula yang sampai saat ini banyak dikenal sebagai trainer-trainer senior yang dihormati dalam industri pelatihan.

Lembaga pertama adalah Dale Carnegie Training. Berdiri sejak 1912—bersamaan dengan waktu Njonja Meneer memulai bisnis jamunya di Indonesia—lembaga ini mulai masuk ke pasar Indonesia tahun 1976. Program pelatihannya yang paling terkemuka adalah Effective Speaking and Humans Relations. Sejumlah nama yang kelak menjadi besar dan terkenal, tercatat sebagai peserta pelatihan Dale Carnegie Training di masa tersebut. Di antaranya adalah Mochtar Riyadi, Jonathan L. Parapak, Cacuk Soedarjanto, Towil Heryoto, dan sejumlah manajer muda yang kemudian menjadi eksekutif hebat di lingkungan Astra International era tahun 90-an. Tahun 1980, hak menggunakan nama, materi, dan metode pelatihan Dale Carnegie Training di Indonesia dibeli oleh Ir. Soen Siregar dengan bendera PT Dasindo Media, sampai sekarang. Meski merupakan pelopor, namun nama lembaga ini tidak cukup populer karena kurangnya publisitas di media massa. Sampai hari ini masih banyak orang yang tidak tahu bahwa ada perwakilan Dale Carnegie Training di Indonesia. Orang lebih banyak mengenal nama Dale Carnegie (1888-1955) sebagai penulis buku terlaris yang amat sangat fenomenal sepanjang abad ke-20, yakni How To Win Friend and Influence People (pertama kali terbit 1936) dan How To Stop Worrying and Star Living (1944). Dale Carnegie sebenarnya menulis beberapa buku lainnya, namun tidak sampai menjadi fenomenal seperti kedua buku tersebut (lebih lanjut tentang DCT Indonesia lihat situs www.indonesia.dalecarnegie.com).

Lembaga kedua adalah John Robert Powers International (JRP), yang dirintis pendirinya tahun 1923 sebagai organisasi agensi modelingnya yang pertama. JRP masuk ke Indonesia tahun 1985. Dalam situs resminya disebutkan bahwa Rayan dan Diana Wijaya adalah orang yang membawa JRP ke Indonesia. Namun masyarakat awam lebih mengenal JRP sebagai organisasi yang ikut dibesarkan oleh Mien Uno, sebelum Mien Uno mendirikan lembaga baru yang kini bernama Duta Bangsa. Sepeninggalan Mien Uno, John Robert Powers ditangani oleh tim manajemen yang baru dibawah kepemimpinan Indayati Oetomo, tokoh penting dibalik keberhasilan JRP di Surabaya. Program andalan JRP adalah Personality Development dan Public Communication (lebih lanjut lihat situs www.jrpindonesia.com).

Lembaga ketiga adalah Dunamis Intermaster, yang memegang hak eksklusif untuk pelatihan utama The 7 Habits of Highly Effective People dari Stephen R. Covey—belakangan menjadi Franklin Covey. Tokoh kuncinya di awal pendiriannya tahun 1991-1992 adalah Nugroho Supangat dan Henk Sengkey. Meski merupakan organisasi yang relatif belia—dirintis oleh Stephen Covey di Amerika tahun 1984—namun perkembangan lembaga ini secara internasional sangat fenomenal. Dalam konteks lokal Nugroho Supangat agaknya berhasil membawa organisasi ini menjadi lembaga yang terhormat dan disegani di tanah air. Belum lama ini estafet kepemimpinan Supangat juga telah berhasil diteruskan ke Managing Partner yang baru Satyo Fatwan (lebih lanjut lihat situs: www.dunamis.co.id).

Sependek pengetahuan saya, ketiga lembaga itulah yang kemudian memperkenalkan adanya konsep lisensi atau sertifikasi untuk menjadi trainer, instruktur, fasilitator, atau apapun istilahnya. Dan dari ketiga lembaga tersebut, Dale Carnegie Training (selanjutnya disingkat DCT) merupakan lembaga yang mengatur proses sertifikasi paling lama.

Sampai tahun 1998, di sekitar 70 negara dimana DCT beroperasi, mereka yang ingin mendapatkan lisensi dasar (pertama) sebagai instruktur harus menginvestasikan waktu rata-rata 24 bulan (dua tahun). Jadi, tidak satu orang pun instruktur DCT yang bisa memperoleh sertifikasi hanya dalam hitungan jam, hari, minggu, atau 2-3 bulan. Tidak peduli berapa uang yang bersedia ia bayar; berapa banyak gelar akademis yang dimilikinya; berapa tinggi IQ yang bersangkutan; dan berapa kaya pengalamannya sebagai profesional; ia harus mengikuti proses standar yang berlaku di seluruh dunia.

Pertanyaannya adalah mengapa menjadi trainer di DCT memerlukan waktu persiapan yang begitu lama di banding menjadi trainer, instruktur atau praktisioner untuk lembaga lainnya? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada proses dan metodologi pelatihan DCT itu sendiri.

Untuk memperoleh lisensi, seorang peminat harus mengikuti pelatihan dasar yang di Indonesia disebut Fundamental Leadership Course (dh. Effective Speaking and Human Relations). Pelatihan ini diselenggarakan sekali seminggu dan berlangsung selama 12 minggu. Jika ia—karena prestasinya di kelas sepanjang pelatihan berlangsung—direkomendasikan oleh peserta lain dari angkatannya untuk menjadi instruktur, maka ia harus ikut lagi program yang sama selama 2-5 angkatan (berarti 2-5 kali 12 minggu) dengan peranan khusus sebagai graduate assistant. Jika ia lolos pada tahap ini, maka ia akan dimasukkan dalam program calon instruktur. Setelah itu ia harus mengikuti ujian sertifikasi dalam forum konferensi instruktur yang dipimpin langsung oleh trainer instruktur mewakili DCT dari New York, Amerika Serikat. Andai ia memiliki kendala bahasa Inggris, maka ujian akan diselenggarakan di negara dimana ia berada dan trainer penguji akan dibantu oleh penerjemah. Ujian diselenggarakan secara maraton selama satu minggu dengan menggunakan kelas khusus dimana peserta pelatihan dipandu oleh calon instruktur sebagaimana layaknya pelatihan sesungguhnya. Trainer penguji akan hadir di kelas dan mengamati seluruh proses pelatihan sambil membuat catatan-catatan penilaian. Calon instruktur juga mesti melewati proses wawancara pribadi dan mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh tim penguji.

Pada hari terakhir, trainer penguji dari DCT pusat akan mengeluarkan tiga rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh sponsor lokal selaku pemegang lisensi induk untuk negara/wilayah tersebut. Rekomendasi pertama, calon instruktur dinyatakan lulus dan diwajibkan untuk tandem dengan instruktur senior untuk 2-5 angkatan berikutnya (bergantung pada nilai yang diperolehnya) sebelum dinyatakan layak menjadi instruktur yang mandiri (solo). Rekomendasi kedua, calon instruktur diminta mempersiapkan diri kembali untuk mengikuti konferensi instruktur berikutnya (ia dianggap punya potensi tapi belum cukup siap). Rekomendasi ketiga, calon instruktur disarankan untk memilih profesi lain yang lebih cocok dengan bakat dan talentanya.

Nah, proses sertifikasi yang panjang inilah yang umumnya membuat banyak calon instruktur DCT berguguran di tengah jalan. Mendedikasikan diri seminggu sekali untuk hadir dikelas sore hingga malam hari (jam 17-21) selama hampir dua tahun penuh, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi sepanjang proses menjadi graduate assistant dan instructor candidate, mereka tidak mendapatkan imbalan finansial yang berarti. Tidak jarang bahkan mereka harus mengeruk koceknya sendiri untuk transportasi pergi-pulang ke lokasi pelatihan.

Namun, hal yang positif dari proses ini adalah setiap calon instruktur benar-benar diuji komitmennya sebelum masuk dalam profesi sebagai trainer DCT. Itu sebabnya, mereka yang kemudian berhasil menjadi instruktur penuh di DCT umumnya memang orang yang benar-benar memberikan dirinya untuk mengajar dan melatih orang lain. Andai pun sebagian dari mereka belakangan meninggalkan DCT, alasannya bukan ketidakcocokan dengan pekerjaan tetapi lebih karena ketidakcocokan dengan sponsor atau manajemen lokal.

Dengan proses sertifikasi yang begitu lama, apakah trainer-trainer DCT kemudian terbukti menjadi trainer andalan? Sebagai mantan orang DCT Indonesia, saya tidak bisa obyektif menjawab pertanyaan ini. Namun saya bisa menyebutkan sejumlah nama orang yang pernah belajar banyak di DCT dan sekarang masih eksis di pasar pelatihan sebagai trainer senior dengan lembaganya masing-masing, antara lain : Jansen H. Sinamo (Institut Darma Mahardika), Luhut Sagala yang dibantu Surjo Sulaksono (Multi Training Center), Hendrik Silitonga (Dinamika), dan trio Alex Paulus—Gregorius Pramudya—Analgin Ginting (trainer penting di lingkungan Smart Corporation).

Saya berkeyakinan bahwa cukup banyak juga mantan pemegang lisensi dari kelompok John Robert Powers dan Stephen R. Covey yang kemudian membangun brand-nya sendiri. Namun saya tidak memiliki data yang bisa dipaparkan karena tidak banyak bergaul dengan mereka.

Yang jelas, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, dalam satu dekade terakhir bermunculan banyak sekali program sertifikasi di luar ketiga lembaga tersebut di atas. Sertifikasi untuk program-program pengenalan kepribadian seperti PDP, Thomas International, dan belakangan DISC serta MBTI adalah contoh yang mudah disebut. Dalam publisitas media massa juga makin sering terdengar tawaran program sertifikasi NLP dengan berbagai variannya untuk level Practitioner, Master Practitioner, Trainer, dan Coach. Belum lagi sertifikasi untuk program hypnosis dan hypnotherapy dengan kiblat rujukan yang aneka ragam. Program certified training designer and delivery professional juga mulai masuk ke Indonesia.

Dari berbagai kesempatan belajar dan mengikuti aneka tawaran tersebut secara langsung, saya mencoba menemukan semacam benang merah yang menjelaskan bagaimana sebuah program sertifikasi hadir di negeri ini.

Pola umum munculnya program sertifikasi itu adalah sebagai berikut: pertama, seorang peminat program mengambil sertifikasi di luar negeri; kedua, ia kemudian menjadi praktisi program yang ia pelajari untuk masa tertentu di Indonesia; ketiga, ia mengambil lagi program sertifikasi tingkat lanjut dan membeli semacam hak untuk melakukan sertifikasi dari guru-gurunya di luar negeri; keempat, ia kemudian menawarkan program sertifikasi untuk pasar Indonesia.

Pola umum ini sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang dulu dilakukan oleh organisasi mapan seperti Dale Carnegie Training, John Robert Powers, dan Stephen R. Covey. Hanya saja jika dulu penjualan lisensi program lebih bersifat paket menyeluruh untuk organisasi (business-to-bussiness), maka belakangan ini penjualan program sertifikasi dan lisensi bersifat parsial dan individual (business-to-customers).

Pada sisi lain, saya juga mencatat bahwa investasi yang diperlukan untuk mendapatkan satu sertifikasi tertentu yang diberikan di Indonesia harganya bergerak antara Rp 1.500.000,- hingga Rp 3.000.000,- per hari per orang (sampai dengan tahun 2009). Jadi, tinggal dihitung saja berapa hari yang diperlukan untuk memperoleh sertifikasi tersebut dan berapa biaya yang diperlukan untuk itu.

Bagaimana dengan kualitas sertifikasi yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia di negerinya sendiri? Pada hemat saya masih sangat memprihatinkan. Tanpa maksud mengecilkan semangat dan gairah kawan-kawan muda yang sebagian saya kenal secara pribadi itu, saya berpendapat bahwa mereka yang menawarkan program sertifikasi itu sendiri masih sangat kurang wawasan maupun kedalaman pengetahuannya (kurang insight-nya). Hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, namun lebih disebabkan oleh terlalu cepatnya proses yang mereka lalui. Ibarat buah matang karena proses karbitan, sebagian besar kawan-kawan muda itu tidak “menyatu” dengan ajarannya sendiri. Belum ada kesatuan gerak antara apa yang dikatakan, diyakini, dan dilakukan.

Kondisi inilah yang menghidupkan kembali impian lama saya untuk membuat semacam sekolah khusus bagi mereka yang berminat menjadi professional trainer, trainerpreneur, dan public speaker. Namun, saya tidak ingin sekadar memindahkan paket yang ditawarkan dan dirumuskan oleh orang-orang hebat di luar negeri untuk dibawah dan diecerkan di Indonesia. Saya ingin mendorong lahirnya semacam komunitas Certified Indonesian Trainers, yang pada satu sisi memiliki konseptual framework yang jelas (ditandai dengan buku teks yang ditulis oleh orang Indonesia juga); dan pada sisi lain benar-benar aplikatif dan praktis (ditandai dengan kualitas alumninya yang menjadi trainer terkemuka).

Belajar dari keberhasilan membangun komunitas penulis buku-buku laris lewat brand Writer Schoolen: real writing – best-seller writers, tahun 2009 saya melahirkan konsep brand yang baru Trainer Schoolen: the real training for the real trainer. Jika Writer Schoolen bermuara pada Certified Indonesian Writer dengan sejumlah persyaratan yang relatif cukup ketat, maka Trainer Schoolen akan bermuara pada Certified Indonesian Trainer yang juga memiliki persyaratan yang tak kalah ketat.

Untuk memperoleh sertifikasi dari Trainer Schoolen, tiap-tiap peminat atau klien harus mengikuti tiga jenjang program sertifikasi dengan jarak waktu tertentu. Masing-masing jenjang berdurasi 3 hari. Di antara pelatihan level satu dan level berikutnya akan ada persyaratan jumlah jam praktik yang harus dilakukan sendiri oleh peserta. Namun bila ia mengalami kesulitan, maka ia dapat meminta bantuan konsultansi berbayar agar ia bisa didampingi sampai benar-benar menjadi trainer dengan penghasilan tertentu seperti yang diinginkannya. Dengan kata lain, program sertifikasi dan pendampingan dari Trainer Schoolen bersifat menyeluruh sampai klien masuk ke pasar dan mendapatkan nafkah sebagai trainer.

Persyaratan lain adalah soal jumlah jam terbang di lapangan dan karya tulis berupa buku yang harus dimilikinya (pertanda bahwa ia memiliki konsep dan bukan hanya pengasong konsep dari orang lain). Karena bagaimana pun juga saya percaya bahwa sudah tiba waktunya orang Indonesia membuat sendiri program sertifikasi yang berkualitas internasional dengan corak keindonesiaan yang khas. Sudah terlalu lama kita sekadar menjadi pengasong konsep sertifikasi dan lisensi dari lembaga-lembaga luar negeri; dan sudah tiba masanya untuk menciptakan sistem dan metode pembelajaran kita sendiri yang bertumpu pada nilai-nilai, budaya, dan spiritualitas kita yang unik.

Seorang kawan yang mendengar gagasan-gagasan di atas, mengatakan kepada saya, “Ketika orang masih ramai berdiskusi soal blue ocean strategy, Anda melangkah untuk melaksanakannya dalam konteks industri pelatihan. Kalau Anda konsisten melaksanakan hal ini, maka nama Anda akan tercatat dengan timnta emas dalam sejarah industri pelatihan di Indonesia.”

Saya tertegun. Akankah demikian? Biarlah sejarah mencatat apakah kiprah saya berhasil atau hanya lewat sebagai pepesan kosong belaka.

* * *

Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Sudah dilihat sebanyak: 38

Trainer Level 5

March 16, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship

Sebagai seorang Trainer Coach yang banyak mengajar para internal trainer di perusahaan (corporate trainer) maupun mereka yang tertarik untuk menekuni profesi mandiri sebagai trainerpreneur, saya membedakan orang-orang yang hadir dikelas—atau berkonsultansi dengan—saya dalam lima level kemungkinan. Pelevelan ini tidak disusun berdasarkan studi dan riset yang mendalam, tetapi juga tidak turun dari langit seperti wangsit paranormal. Dasar pelevelan ini secara hipotesis mencerminkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri selama hampir 20 tahun berkecimpung di industri pelatihan (saya memperoleh sertifikasi formal pertama tahun 1991 dari Dale Carnegie Training dengan nilai terbaik untuk angkatan tersebut).

Trainer Level 0 (TL-0) adalah mereka baru menjadi peserta program pelatihan tertentu, dan tertarik untuk suatu hari nanti menjadi trainer yang membawakan materi yang sama. Mereka belum memiliki pengalaman sedikitnya pun mengenai materi pelatihan dan baru terbuka mata budinya ketika mengikuti pelatihan untuk pertama kalinya. Umumnya minat menjadi trainer tumbuh karena mereka merasakan dampak yang luar biasa dari proses pelatihan yang diikutinya. Pelatihan itu telah mengubah hidup mereka, sekali untuk selamanya. Umumnya TL-0 ini disebut trainee.

Trainer Level 1 (TL-1) adalah mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan tertentu—misalnya pelatihan Teknik Presentasi Efektif atau Selling Skill—dan kemudian ikut lagi sebagai alumni sekaligus asisten trainer yang bertugas. Peran mereka terbatas sebagai orang yang sudah tahu materi lebih dulu dan bisa menjelaskan apa yang akan dialami peserta dalam sesi-sesi pelatihan. Memimpin diskusi kelompok atau melakukan energizer adalah dua peran yang galib mereka lakukan. Di lembaga pelatihan seperti Dale Carnegie Training, TL-1 ini disebut sebagai graduate assistant. Umumnya kehadiran mereka bersifat sukarela dan mereka tidak mendapatkan imbalan finansial atas keterlibatannya itu.

Trainer Level 2 (TL-2) adalah mereka yang sudah memutuskan untuk menjadi full-time trainer, menjadi professional trainer. Mereka umumnya sudah masuk dalam suatu proses pembelajaran khusus untuk mendapatkan lisensi atau sertifikasi dari lembaga yang kredibel. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang sudah lulus sertifikasi. Namun baik mereka yang belum lulus maupun yang sudah lulus, saya masukkan ke dalam kategori TL-2 karena mereka melaksanakan pelatihan yang bersifat standar, ketat mengikuti instructor manual. Modul atau pun program pelatihan yang mereka bawakan bersifat standar dan mereka belum memiliki kemampuan untuk menyesuaikan materi guna kebutuhan spesifik klien (customizing). Dengan lain perkataan, mereka melaksanakan pelatihan sesuai dengan text-book atau instruction guide dari lembaga pelatihan yang memberikan sertifikasi atau lisensi kepada mereka. Sebagian besar internal trainers di perusahaan-perusahaan terkemuka adalah TL-2 ini. Sebagian trainerpreneur pemula yang masih dalam tahap perjuangan juga masuk dalam kategori ini. Dengan modal lisensi atau sertifikasi yang baru mereka peroleh, dari dalam atau pun luar negeri, mereka mencoba menawarkan jasanya ke masyarakat luas. Mereka masih sangat sering menggunakan istilah-istilah teknis yang memerlukan penjelasan bertele-tele, tetapi tidak memiliki manfaat praktis bagi peserta pelatihan.

Trainer Level 3 (TL-3) adalah trainer dengan jam terbang yang cukup untuk bisa melakukan berbagai proses customization sesuai kebutuhan klien atau peserta program pelatihan. Mereka bukan hanya mampu melakukan customization di dalam proses mengajar (in-class customization) untuk memenuhi kebutuhan spesifik peserta, tetapi juga bisa membuang dan menambahkan materi dari suatu program pelatihan (programme customization) untuk memenuhi kebutuhan mental-emosional pihak manajemen perusahaan—yang biasanya bukan peserta pelatihan, tetapi memiliki otoritas untuk menentukan jalan tidaknya sebuah pelatihan di perusahaan terkait. Artinya, TL-3 ini memiliki conceptual thinking yang cukup kuat dan mampu menyeimbangkan antara sistimatic thinking process dengan creative thinking process. Pada level ini berkumpul dua kelompok: pertama, para trainer-senior-gajian (internal trainers); dan kedua, trainerpreneur madya yang mulai mantap dengan pilihannya.

Trainer Level 4 (TL-4) adalah trainer dengan kemampuan merancang modul dan program pelatihan secara mandiri. Mereka tidak lagi sekadar mampu melakukan penyesuaian (customization), melainkan bisa merancang suatu program pelatihan yang baru secara lengkap (creating a new training programme). Artinya TL-4 bukan hanya mampu membuat modul pelatihan, tetapi juga mampu membuat instructor guide/manual agar pelatihan itu bisa dilakukan oleh pihak lain. Umumnya TL-4 juga telah memiliki karya tulis populer atau buku-buku berkualitas yang membuktikan kemampuan mereka berpikir secara mendalam dan konseptual. Mereka tidak lagi sekadar orang yang bisa mengutip pendapat dan pandangan pakar tertentu, tetapi juga sudah memiliki pandangan sendiri yang didasarkan pada argumen-argumen rasional yang tak mudah dipatahkan.

Kawan-kawan yang masuk kategori TL-4 adalah trainerpreneur dalam pengertian yang sesungguhnya. Mereka bukan trainer-gajian, tetapi entrepreneur dibidang pelatihan. Sebagian di antara mereka bahkan sudah berkolaborasi membangun tim kerja atau jejaring yang saling mendukung satu sama lain. Mereka secara relatif telah menemukan gaya dan metodenya yang unik untuk dikembangkan lebih lanjut.

Trainer level 5 adalah trainer dengan kemampuan melakukan standarisasi proses berpikir mereka, sehingga dapat mulai melakukan duplikasi secara sistematik untuk menjadi franchising business. Karakteristik utama mereka adalah kemampuan melakukan duplikasi diri tanpa mengorbankan kualitas pelatihan itu sendiri; dan kemampuan manajemen pemasaran yang juga terstandarisasi dengan baik. Dalam sejumlah kasus, TL-5 ini telah berhasil membangun tim kerja yang handal untuk melakukan proses penciptaan program baru dan proses pemasarannya sekaligus. TL-5 adalah trainerpreneur yang tidak saja menjadi kaya, tetapi kaya raya. Almarhum Dale Carnegie (1888-1955), Zig Ziglar, Stephen R. Covey, Anthony Robbins, Robert T. Kiyosaki, hanyalah sekadar contoh yang paling mudah disebut untuk menunjukkan sosok TL-5 ini.

Menjadi TL-5, itulah cita-cita yang pantas bagi setiap trainerpreneur di negeri ini. Cita-cita ini perlu dipancangkan dan kemudian diperjuangkan dengan gigih agar Indonesia tidak hanya menjadi ajang tempat penjualan jasa pelatihan asing. Sudah waktunya trainerpreneur-trainerpreneur yang berbakat besar untuk unjuk gigi memajukan negeri. Ary Ginanjar sudah merintisnya dengan pelatihan ESQ yang berkembang sampai ke mancanegara.

Siapakah yang siap untuk menyusul?

***

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Sudah dilihat sebanyak: 32

Melihat Keluarbiasaan

March 9, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship

Dalam suatu kesempatan di kelas pelatihan untuk para trainer, kawan muda Prasetya M. Brata yang belum lama memposisikan diri di masyarakat sebagai mind provocateur, menggelitik pikiran saya dengan mengatakan, “Kalau Bang Harefa itu disebut-sebut sebagai guru biasa untuk orang-orang luar biasa, maka saya ini guru luar biasa untuk orang-orang biasa”.

Saya hanya tertawa saja mendengar gurauan provokatif itu. Namun ketika saya memilih menyebut diri (antara lain) sebagai “guru biasa untuk orang-orang luar biasa”, sejak beberapa tahun silam, saya tidak sedang bergurau. Frasa itu saya pilih dengan hati-hati dan penuh pemikiran yang mendalam.
Frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa” mencerminkan pandangan pribadi saya tentang apa yang diperlukan untuk menjadi seorang trainer andalan (superb trainer). Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan bukanlah atribut akademis atau gelar kesarjanaan yang panjang berderet-deret. Juga bukan sertifikasi yang berlapis-lapis dari berbagai lembaga tingkat nasional dan internasional. Kualifikasi yang terpenting untuk menjadi trainer andalan bukan soal berapa berat dan tinggi badan; bukan tata busana yang memesona orang lain; bukan pula suara yang mikrofonik seperti penyiar radio yang jadi idola pendengarnya. Semua itu—gelar, sertifikasi, berat/tinggi badan, tata busana, suara, dan sebagainya—bisa jadi penting atau sekurang-kurangnya pastilah berguna, tetapi bukan yang terpenting.

Lalu apa kualifikasi terpenting untuk menjadi seorang trainer andalan?

Kualifikasi terpenting untuk menjadi trainer andalan adalah kemampuan untuk melihat keluarbiasaan dalam diri setiap peserta pelatihan (trainee) yang merasa dirinya biasa-biasa saja; yang merasa dirinya bukan siapa-siapa; bahkan yang merasa dirinya memiliki banyak kekurangan disana sini. Dan untuk mampu melihat hal itu, seorang trainer andalan harus bisa menempatkan dirinya sebagai orang biasa. Itulah alasan mengapa saya memilih frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa”. Dengan cara itu saya dibantu mengingatkan diri sendiri agar selalu berusaha untuk melihat dan menyimak keluarbiasaan dalam diri setiap peserta yang hadir dalam pelatihan yang saya fasilitasi. Tugas terpenting saya adalah membantu mereka menemukan sendiri keluarbiasaannya itu dengan latihan-latihan tertentu di kelas. Hanya bila mereka keluar dari kelas dengan keyakinan diri yang lebih besar atas kemampuan mereka sendiri, maka saya boleh menganggap diri saya berhasil sebagai trainer.

Saya teringat suatu pengalaman memberikan pelatihan Effective Speaking and Human Relations di sekitar akhir tahun 1992 sampai awal 1993. Waktu itu seorang peserta bernama Jody menarik perhatian saya. Ia sarjana baru lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, yang berhasil mendapatkan pekerjaan pertamanya di PT Toyota Astra Motor. Lulus dengan predikat cum laude jelas menunjukkan betapa cerdasnya lelaki kelahiran Jambi itu. Namun bekerja di sebuah perusahaan terkemuka kelas dunia sebagai pegawai baru, tentu merupakan tantangan khusus baginya. Ia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia kerja yang sama sekali berbeda dengan kebiasaan di ruang-ruang kuliah. Posisi yang diperolehnya adalah hasil dari persaingan ketat dengan puluhan sampai ratusan pelamar lain. Dan dalam pekerjaannya ia juga masih harus berhadapan dengan rekan-rekan kerja yang tidak semua menyukai kehadirannya. Intrik dan politik perkantoran adalah hal yang tak terhindarkan bagi siapa saja yang bekerja di perusahaan kelas dunia. Tambahan lagi ia perlu menyesuaikan diri dengan ritme kota megapolitan Jakarta yang amat sangat berbeda dengan kota kelahirannya Jambi maupun kota pelajar Yogyakarta.

Ketika pertama kali diberi kesempatan berbicara di depan kelas, ia tidak menunjukkan keyakinan diri yang kuat. Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang cukup tinggi memudahkan audiens untuk menyukainya. Namun, nada bicaranya yang cenderung datar dan keyakinan diri yang belum kuat membuat kata-kata yang diucapkannya tak bertenaga. Pelatihan itu sendiri berlangsung mulai jam 5 sore hingga jam 9 malam, satu sesi per minggu, selama 12 minggu berturut-turut. Ia masih nampak gugup kalau berbicara di depan kelas bahkan sampai 5-6 sesi berlangsung.

Meski demikian, sejak awal saya memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa Jody kelak akan menjadi salah seorang tokoh penting di jajaran manajemen puncak perusahaan. Ia memiliki segala hal yang diperlukan untuk bergerak maju dalam kariernya sampai ke posisi puncak. Dalam sejumlah hal ia memiliki potensi yang jauh lebih besar dari saya sendiri. Dan itulah yang berulang kali saya katakan kepadanya, setiap ada kesempatan mengomentari penampilannya di kelas. Sehingga dalam waktu 12 minggu pertumbuhan kepercayaan dirinya sangatlah mengagumkan. Ia mendapatkan sejumlah penghargaan di kelas dan menjadi salah satu alumni terbaik dari angkatannya. Ia meninggalkan kelas saya sebagai Jody yang lain; Jody yang optimis melihat kariernya di masa depan; Jody yang mulai menyadari keluarbiasaan dalam dirinya sendiri.

Selang beberapa bulan kemudian, ia ikut lagi di kelas Professional Selling and Negotiaton Techniques yang saya fasilitasi. Dan kali ini ia belajar dengan sangat cepat sehingga membuat kagum banyak teman di angkatannya. Saya sama sekali tidak terkejut sebab sejak awal saya melihat keluarbiasaan di dalam dirinya.

Singkat cerita ia kemudian menjadi klien sekaligus sahabat saya selama 3-4 tahun. Ia telah mengikuti hampir semua program pelatihan yang saya fasilitasi di paruh pertama tahun 1990-an. Lalu Jody berhasil mendapatkan beasiswa untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi di Queenland, Australia. Ia pulang dengan dua gelar master dan berkarier di Citibank untuk beberapa tahun. Belakangan, ia ditarik kembali di lingkungan Toyota Astra Motor dan sekarang menduduki jabatan sebagai salah satu manajer senior di divisi penjualan dan pemasaran. Saya percaya ia berpotensi untuk menjadi salah seorang direktur di Astra Group dalam beberapa tahun ke depan.

Kemampuan melihat keluarbiasaan dalam diri peserta pelatihan sebelum yang bersangkutan itu sendiri menyadari potensinya adalah kualifikasi terpenting yang diperlukan untuk menjadi trainer andalan. Sebab sesungguhnya trainer andalan haruslah berhati guru, orang yang kebahagiaan tertingginya adalah melihat keberhasilan murid-muridnya di masa-masa mendatang; bukan orang yang mengelu-elukan kehebatan dirinya sendiri di muka kelas. Itulah semangat dari frasa “guru biasa untuk orang-orang luar biasa.”

Bukankah seharusnya demikian?

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Telepon SEKARANG ke 021-460 5757; 021-3260 3383; Hendri 0815 8963 889
www.pembelajar.com; www.proaktif.biz; www.andriasharefa.com

Sudah dilihat sebanyak: 17