Motivator Terbaik
Download High Resolution Picture: Here
Sudah dilihat sebanyak: 221Happy Writing
Menulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawa saya ke dalam percengkeramaan dengan kekekalan. Artinya, membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkerama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-fisik, di mana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik).
Saat asyik menulis, saya bisa tak mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, di mana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan merajut ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya.
Waktu juga terasa berhenti. Saya pernah menulis sebuah tulisan sejak pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi.Nonstop. Tanpa berdiri sejenak pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu saya seolah-olah lepas dari ikatan waktu. Saya tersadar karena pintu kamar saya diketuk, lalu melihat jam tangan dan langsung terperanjat sendiri.
Bila sebuah konsep tuntas saya tuliskan, ada kelegaan yang besar. Ada kepuasan khusus yang bersifat mental dan spiritual. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas saya, cogito ergo sum. Dan bersiaf spiritual karena tulisan keberadaan saya sebagai homo significants, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaan atas “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum.
Pengalaman yang luar biasa itulah yang saya sebut happy writing.
Kalau Anda menulis, happy juga gak sih? Selamat menulis!
Judul : Happy Writing: 50 Kiat agar Bisa Menulis dengan “Nyasik”
Tahun Terbit :2010
Halaman : 312
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 9789792263244
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Mindset Therapy
July 29, 2011 by admin
Filed under Uncategorized
Setelah sukses mempopulerkan kata “pembelajar” dan “pembelajaran” lewat buku Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000), kali ini Andrias Harefa kembali menawarkan konsep pengayaan makna kata “belajar” dalam arti learn, unlearn, dan relearn. Belajar tidak saja dipahami sebagai kegiatan mendapatkan-mengumpulkan-memperoleh informasi, pengetahuan dan keterampilan, serta ilmu pengetahuan (learning); tetapi juga meninggalkan-melepaskan-membuang apa-apa yang tadinya susah dipelajari (unlearn); dan memperbaiki-meningkatkan-meluruskan apa yang sudah dipelajari itu (relearn).
Konsep yang ditawarkan dalam pengantar karyanya yang ke-37 ini sungguh pemikiran yang orosinil dan otentik, karena lahir dari pergulatan penulis selama 20 tahun lebih menjadi trainer dan pembicara profesional. Mengajar lebih dari 20.000 jam terbang; menjangkau lebih dari 200.000 orang di berbagai kota besar Indonesia, telah mendorong Andrias Harefa untuk berbagi renungan-renungan terbaiknya mengenai proses pembelajaran yang memanusiawikan manusia sebagaimana ia di ciptakan oleh Sang Pencipta Maha Agung.
Buku ini mencerahkan siapa saja yang membacanya, terutama para pengajar dan pembelajar, praktisi di bidang human resource, human capital, pengelola leraning center, trainer, dan pembicara public yang memandu proses-proses pembelajaran. Namun bukan itu saja, setiap orangtua yang concern mengenai soal-soal pendidikan dan pembelajaran juga akan mendapatkan manfaat dari buku ini.
Judul: Mindset Therapy: Terapi Pola Pikir, tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn
Tahun Terbit : 2010
Halaman : 178
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 9789792257212
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Katro
July 28, 2011 by admin
Filed under Motivational
Terlahir dalam keluarga pas-pasan dan cenderung miskin, DNA sukses orang yang satu ini nampaknya terselip dalam citra yang ditangkap oleh kawan-kawan semasa ia duduk di SD Purwogondo 2, Purwosari. Bakat dan talenta untuk sukses itu diwakili dengan kata-kata: usil, jahil, iseng, alias nyelelek, dan tak pernah bisa diam. Melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah Indraprasta, pendidikan formalnya berakhir di SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang.
Lulus SMA tahun 1983, perjalanan hidupnya berputar di antara menganggur, jadi kernet angkot, dan jadi supir truk elpiji di Tanah Mas, Semarang.
Berbekal uang transport Rp 30.000,- dari Joko Dewo, temannya yang sudah lebih dulu merantau ke ibukota, wong ndeso yang satu ini mengadu nasib ke Jakarta tahun 1985. Dengan logat Jawa yang medhok, dan bahasa Indonesia yang belepotan, ia berjuang menafkahi hidupnya. Berulang kali bolak-balik Jakarta-Semarang dan bolak balik pula ia menjalani peran sebagai supir, tukang gali sumur pompa, MC hajatan tingkat kampung, dan berbagai kegiatan sekadar untuk menyambung hidup sampai tahun 1992. Setelah itu, ia naik pangkat sebagai supir pribadi Alex Sukamto, kemudian bekerja untuk orang Jepang, sampai 1995.
Ia mulai dikenal agak luas sejak menemani penyanyi cilik Joshua dalam video klip Air, yang lebih diingat sebagai album Diobok-obok. Bergaul karib dengan kawan-kawan di Radio SK (radio yang melahirkan Bagito, Taufik Savalas, Ulfa Dwijayanti, Komeng, dsb) dan berulang kali tampil bersama Srimulat, namanya melambung sebagai pembawa acara Empat Mata tahun 2007 (belakangan dimodifikasi jadi Bukan Empat Mata). Jadilah ia selebritas berpenghasilan miliaran rupiah per tahun. Wajahnya muncul di televisi lima hari seminggu bahkan kadang lebih. Impiannya telah menjadi kenyataan.
Ira Lathief dalam buku Tukul Arwana: Kumis Lele Rezeki Arwana, merangkum kisah hidup Wong Ndeso, Katro, dan Kutukupret sukses ini dengan menarik. Siapa saja yang haus resep sukses dapat menggali inspirasi dari Tukul.
Pertama, Tukul hidup dengan ambisi tunggal: menjadi pelawak terkenal yang masuk televisi. Ambisi itu sudah dipupuk sejak mengikuti berbagai lomba lawak tingkat kampung, kabupaten, hingga propinsi, diusia sekolah menengah. Ia dan teman-temannya sering juara, mesti hal itu tidak kunjung membuatnya mendapatkan nafkah yang layak. Hebatnya, ia bisa terus memelihara dan menumbuhkan ambisi itu sampai lebih dari 20 tahun. Segala macam pekerjaan yang dilakukannya untuk bertahan hidup, tidak membuat ambisinya surut. Penderitaan hidup tidak berhasil “membunuh” ambisi tunggal tersebut. Ada persistensi, ketekunan, dalam berusaha, yang sering disebutnya sebagai “kristalisasi keringat”.
Kedua, Tukul belajar bergaul dan mau menerima masukan dari berbagai orang yang ditemuinya. Dengan cara itu ia menjadi mudah diarahkan. Rammon Tommibens, yang bersama Harry De Fretes pernah memberinya tempat untuk tampil di Comedy Cafe, mendorong ia untuk membaca buku. Pergaulan dengan Rammon menyadarkan Tukul bahwa “Orang miskin harus merevolusi dirinya untuk maju. Kalau mau maju harus baca buku. Banyak baca buku akan mengubah nasib.” Dan begitu giatnya Tukul membaca, khususnya buku-buku yang terkait kepribadian orang berdasarkan tanggal lahir, shio, primbon, dan sebagainya, ia kemudian bisa bergaya seperti peramal sifat dan kepribadian orang. Pengetahuan ini memudahkan ia masuk ke lapisan orang-orang yang memang suka “ditebak” kepribadiannya.
Ketiga, Tukul diakui teman-temannya memiliki disiplin yang mengagumkan sebagai pelawak. Jika pentas Srimulat di mulai pukul 9, maka pukul 8 ia sudah ada di lokasi. Hal ini juga menunjukkan adanya antusiasme yang luar biasa dalam dirinya untuk menghibur orang, menyenangkan audiensnya. Dalam soal ini Tukul lebih mirip militer ketimbang seniman. Ia punya disiplin.
Keempat, Tukul membuat dirinya mudah dihubungi. Justru karena dirinya belum terkenal, maka ia merasa perlu membuat kartu nama agar bisa dihubungi orang. Hal ini bukan sesuatu yang galib untuk pelawak tahun 80-90an.
Kelima, Tukul membangun brand dan keunikan dirinya dengan berbagai cara. Mulai dari “Kembali ke laptop”, “Puas, puas, puas!”, “Tak sobek-sobek mulutmu!”, berbahasa Inggris dengan sok-sokan, menyebut dirinya sebagai Cover Boy dengan nama Reynaldi, sampai tepuk tangan gaya monyet dan memanyunkan bibir atau menyisir rambut dengan jari-jarinya. Ini membuatnya menjadi khas, walau tidak semua hal itu orisinal tetapi modifikasi dari apa-apa yang semula ditirunya dari orang lain. Namanya pun berulang kali dimodifikasi dari Tukul Kelawu Kethek, Tukul Piranha, Tukul Julung-julung, Tukul Mujair, Tukul Sapu-sapu, sebelum akhirnya Tony Rastafara, menyarankannya menggunakan Tukul Arwana sebagai nama panggung.
Keenam, Tukul juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan berusaha untuk tidak melupakan asal usulnya. Ia punya rumah yang difungsiikan sebagai Posko Ojolali, tempat teman-temannya ditampung dan sekaligus tempat evaluasi penampilannya. Dalam berbagai kesempatan syuting, ia melibatkan 20-an kawan-kawannya agar ada semacam distribusi rezeki. Dan itu sudah dilakukannya sejak masih susah dulu. Jika dapat kesempatan manggung dan dapat honor, ia suka mentraktir teman-temannya.
Ketujuh, Tukul berusaha mengenal audiensnya, menghargai dan melibatkan mereka. Menyanyi, main gitar, dan berbagai hal dilakukan Tukul untuk membuat audiensnya senang. Bahkan, menurut Tarzan, Tukul adalah orang pertama yang pernah mengusulkan agar Srimulat mengumpulkan penonton berbayar untuk menjaga pamor.
Terakhir, Tukul juga dikenal sederhana. Ia tidak punya kartu kredit. Makanan favoritnya adalah oseng-oseng kangkung, telur mata sapi, dan sambal petai. Ia tetap gagap teknologi, walau waktu kerja “dipaksa” menggunalkan laptop.
Jika Tukul punya DNA sukses, siapa yang tidak?
*) Tulisan ini juga di muat di Majalah Anda Luar Biasa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri www.pembelajar.com









