Bodoh

November 25, 2010 by  
Filed under Motivational

Sebuah cerita menelusup masuk ke BBM (Blackberry Mesenger) saya. Cerita lama yang berulang kali saya peroleh dari sejumlah kawan. Namun, ini kali ingin saya olah menjadi tulisan.

Disebutkan, seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar US$ 5.000. Uang itu akan digunakan untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu.

Bankir yang melayani pria tersebut mengatakan bahwa bank membutuhkan suatu jaminan untuk pinjaman tersebut. Pria Tionghoa itu setuju. Ia menawarkan mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

Bankir setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, sang bankir dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya. Mereka menganggap pria Tionghoa itu bodoh. Siapa yang tidak bodoh, jika menggunakan mobil Ferrari baru seharga US$ 250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar US$ 5.000 saja.

Seorang petugas kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Tionghoa tersebut kembali. Segera ia membayar utang sebesar US$ 5.000 ditambah bunganya sebesar US$ 15.41.

Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi terus terang saja, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek informasi tentang Anda dan mengetahui bahwa anda adalah seorang miliarder. Mengapa anda repot-repot meminjam uang sebesar US$ 5.000?”

Si pria Tionghoa membalas sambil tersenyum, lalu berkata “Dimana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu?”

Ceritanya berhenti sampai di situ.

Lalu apa maknanya?

Setiap orang yang membaca cerita itu dapat beropini, dapat memberikan makna menurut selera, wawasan dan kaca matanya masing-masing.

Kawan saya, Her Suharyanto, misalnya. Trainer penulisan dan ghost writer jagoan pemilik situs jurutulis.com itu, memberi respons singkat “Pantesan kaya…” Ia mengangap pria Tionghoa itu menjadi kaya karena cara berpikirnya yang luar biasa itu. Sementara para bankir yang melayaninya terjebak dalam kotak pikiran standar sebagai orang bank. Mereka tidak menghitung biaya penitipan barang jaminan, tetapi hanya menghitung bunga pinjaman menurut standar konvensional.

Saya sendiri meletakkan cerita tersebut dalam konteks resep sukses. Jika pria Tionghoa itu mewakili figur orang sukses, maka salah satu resepnya adalah kemampuan untuk menerima diri dianggap “bodoh” (oleh para bankir) ketika justru sedang melakukan sesuatu yang pintar.

Saya perlu mengaku dengan jujur bahwa saya sendiri sangat tidak suka dianggap bodoh. Saya suka menampilkan diri sebagai orang yang pintar, bahkan sering sok pintar. Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berhasil menulis 38 buku yang mayoritas best-seller, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya bisa bertahan dalam profesi sebagai trainer dan pembicara motivasi selama 20 tahun terakhir, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memenangkan kontrak memberikan pelatihan selling skill di jaringan dealer mobil Toyota seluruh Indonesia sepanjang 1993-1997, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memberikan pelatihan kepemimpinan dan manajemen terapan kepada ribuan supervisor dan manajer di PT Charoen Pokhpand (2003-2005), ribuan lagi di Bank OCBC NISP (2005-2007), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berkesempatan memberikan sesi-sesi motivasi kepada hampir semua pekerja di perusahaan alat berat terkemuka seperti PT United Tractors (sejak 1992 sampai sekarang), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya dipercaya melatih para internal trainer di berbagai perusahaan terkemuka; mendampingi ratusan orang belajar menulis lebih baik dan menuntaskan citacita mereka untuk menulis buku-buku populer; dan seterusnya.

Tetapi sesungguhnya disitulah kebodohan saya. Saya sering tidak mampu melihat peluang dan kesempatan di luar kotak berpikir sebagai trainer atau sebagai penulis. Saya terpenjara oleh sistem berpikir yang telah saya bangun bertahun-tahun, sehingga mudah menganggap orang lain yang berpikir di luar cara tersebut sebagai orang bodoh. Saya tak ubahnya seperti para bankir yang dengan gembira meminjamkan uang US$ 5.000 kepada seorang pria yang cukup “bodoh” untuk menjaminkan sebuah Ferrari baru.

Pada hal, andai saya bersedia untuk lebih membuka pikiran, mau menantang diri untuk thinking outside the box, maka boleh jadi saya bisa memasuki berbagai situasi lain diluar pekerjaan sebagai trainerpreneur dan writerpreneur yang sudah saya kembangkan selama ini.

Jadi, resep sukses kali ini adalah anjuran “jangan sok pintar, tetapi tetaplah merasa bodoh, dan bertanyalah untuk dapat memahami pola pikir orang lain yang Anda anggap lebih sukses dan lebih bahagia dari Anda”. Merasa bodoh itu penting, sepanjang hal itu mendorong kita untuk maju.

Bukan begitu?

* Andrias Harefa
Mindset Therapist; Penulis 38 Buku Best-Seller
Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun; Pendiri www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 48

Orgasmic Writing

November 22, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship


Menulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawa saya ke dalam percumbuan dengan kekekalan. Artinya, menulis membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkerama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-fisik, dimana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik).

Saat asyik menulis, saya bisa tak mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, dimana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan mencumbui ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya.

Waktu juga terasa berhenti. Saya pernah menulis sebuah tulisan sejak pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi. Nonstop. Tanpa berdiri sejenak pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu saya seolah-olah lepas dari ikatan waktu. Saya tersadar karena pintu kamar saya diketuk, lalu melihat jam tangan dan langsung terperanjat sendiri.

Bila sebuah konsep tuntas saya tuliskan, maka ada kelegaan yang besar. Ada kepuasan khusus yang agaknya hanya bisa disetarakan dengan fenomena orgasme yang bersifat mental dan spiritual. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas saya, cogito ergo sum. Dan bersifat spiritual karena tulisan bermain di wilayah makna, mengejawantahkan keberadaan saya sebagai homo significants, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaannya atas “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum.

Pengalaman yang luar biasa itulah yang saya sebut orgasmic writing. Bukan apa-apa. Nama yang diusulkan oleh kawan muda Edy Zaqeus itu memang terasa, terdengar, dan terlihat paling dekat dengan sensasi yang dimunculkan dalam kegiatan menulis itu sendiri.

Anda punya pemikiran atau nama lain?

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 43

Menulis Bikin Cantik

September 1, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Sejumlah penelitian para profesor biologi dan psikologi ditulis dalam buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Disana, antara lain, tertulis pendapat James W. Pennebaker, “menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega”.

Fatima Mernissi, yang oleh sebagian orang disebut sebagai pemikir-penulis, juga pernah menyarankan, “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa.” Ia juga mengatakan bahwa, “menulis lebih baik daripada operasi plastik.”

Kedua alinea di atas saya kutip begitu saja dari buku Fahd Djibran yang berjudul Writing is Amazing. (Juxtapose, 2008). Sayang sekali saya tak berkesempatan membaca buku-buku yang disebutkan Djibran.

Bagaimana pun saya percaya bahwa menulis membuat Anda lebih “cantik” dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Mau “cantik”? Menulislah.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 43

Kepepet Itu Penting

June 22, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Saya percaya, sampai derajat tertentu, 8 dari 10 orang bisa menulis artikel atau buku. Sebab menulis artikel dan 1-2 buku dengan ketebalan 100-an halaman tidaklah memerlukan kecerdasan ekstra. kecerdasan orang biasa seperti saya sudah lebih dari cukup.

Mengapa saya percaya demikian? Ada beberapa alasan. Yang paling mudah disebut adalah dengan mengamati kawan-kawan yang bekerja sebagai wartawan. Sebagian yang saya kenal, saya anggap tidak terlalu cerdas. Sebagian lagi bahkan membuat saya berpikir betapa mudahnya menjadi wartawan kalau kualifikasinya seperti dia-dia itu. Kenyataannya, entah cerdas atau tidak, wartawan bisa menulis setiap hari. Sekali lagi: setiap hari. Karena apa? Karena tenggat waktu (dead-line) alias kepepet.

Alasan kedua datang dari pengamatan di kampus. Sejumlah kawan yang tulisannya saya anggap luar biasa membingungkan, eh ternyata mampu menyelesaikan skripsinya dengan baik. Entah cerdas, setengah cerdas, atau tidak cerdas sama sekali, banyak kawan saya yang sukses menulis skripsi tanpa menjiplak. Karena apa? Dugaan saya juga karena kepepet, terdesak batas waktu.

Bayangkan, kalau dengan menulis sebuah artikel, atau menulis sebuah buku saku, orang yang paling Anda cintai akan diijinkan hidup; sementara kalau tidak menulis mereka akan dihukum mati; maka bisakah Anda menyelesaikan tulisan yang diminta?

Dalam menulis, perasaan kepepet itu penting.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 37

Menulis Itu Pekerjaan Tangan

May 25, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Saya sering mengatakan bahwa menulis itu gampang. Untuk bisa menulis, hemat saya, tidak diperlukan bakat khusus. Ibarat berenang, orang tak perlu merasa berbakat untuk bisa berenang. Ibarat naik sepeda, orang tidak perlu bicara soal talenta kalau mau belajar naik sepeda. Yang diperlukan adalah praktik berkelanjutan alias pembiasaan. Yang diperlukan adalah tangan yang mengetik, mewujudkan gerakan gagasan menjadi sesuatu yang terbaca seperti tulisan ini.

Kawan saya, seorang penyunting muda yang cerdas, menyimpulkan bahwa bagi orang seperti saya, menulis itu mungkin dipahami sebagai pekerjaan tangan, bukan pekerjaan pikiran. Kalau menulis merupakan pekerjaan pikiran, maka diperlukan kecerdasan khusus untuk itu. Namun, menulis sebagai pekerjaan tangan tidak memerlukan kecerdasan ekstra.

Saya kira kawan saya benar. Bagi saya menulis itu pertama-tama dan terutama adalah pekerjaan tangan. Tak perlu susah berpikir bagaimana menulis atau mulainya dari mana. Langsung saja duduk dan tulis (ketik) apa yang ada dalam pikiran. Inilah yang pertama-tama dibutuhkan dalam tahap awal. Dan setelah terbiasa menulis, maka hal-hal lain bisa dipelajari untuk menghasilkan tulisan yang makin berkualitas.

Dengan pemahaman yang demikian itulah saya membentuk komunitas Writer Schoolen (1 Mei 2007) yang membantu ratusan orang menemukan kembali kemampuannya menulis; kemampuan yang telah ada di dalam dirinya sendiri. Dan saya bersyukur bahwa lewat komunitas ini semakin banyak orang menulis dan menulis. Belasan alumni Writer Schoolen bahkan telah menulis buku yang diterbitkan penerbit-penerbit terkemuka, termasuk Gramedia Pustaka Utama.

Entah mengapa, saya bahagia dengan hal-hal sederhana semacam itu.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 16

Write and Grow Rich

March 9, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Andrea Hirata nampaknya tak menduga bahwa karyanya akan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penulisan buku (sastra) di Indonesia. Sebab bukan dia yang mengirimkan naskah itu ke penerbit, melainkan temannya sesama karyawan Telkom.

Haidar Bagir, Presiden Direktur Mizan Publishing, yang membuat keputusan agar novel Laskar Pelangi diterbitkan oleh Bentang dari Yogyakarta, juga tak menduga karya Andrea Hirata itu akan mencatat rekor khusus dalam soal penjualannya. “Kami tahu buku itu bagus dan bakal laku, tapi tidak tahu bakal selaku ini,” katanya pada Kompas (12/10/08).

Apapun novel Laskar Pelangi, yang disusul Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Dan setelah film Laskar Pelangi yang ditangani Mira Lesmana dan Riri Reza juga meledak di pasaran, di tonton lebih dari 1,5 juta orang sepanjang Oktober 2008 (belakangan jumlahnya menembus angka 4 juta penonton), maka film berikutnya menjadi masuk akal untuk dibuat. Benar-benar luar biasa.

Apa yang saya pelajari dari fenomena tetralogi Laskar Pelangi? Untuk kepentingan tulisan ini, saya ingin menyebutkan dua hal. Pertama, novel ini tidak dirancang untuk menjadi best-seller. Suksesnya tidak merupakan hasil dari perencanaan dalam pengertian tradisional. Tak ada pembicaraan khusus antara penerbit dan penulis untuk mempromosikan novel ini secara besar-besaran. Andrea Hirata juga tidak melakukan apapun yang bisa dianggap spektakuler dan revolusioner, untuk membuat novelnya laku. Namun, kekuatan alam semesta agaknya bekerja sama dan membuat novel ini menginspirasi jutaan orang, termasuk penulisnya sendiri. Andrea Hirata telah membuat karya yang bahkan mengubah dirinya sendiri. Jika perjumpaannya dengan Ibu Muslimah dan Pak Harfan di tahun 70-an silam merupakan transformasi diri tahap satu (level pembelajaran), maka setelah novelnya meledak di pasaran, ia mengalami transformasi tahap dua (level kepemimpinan). Kemungkinan ia akan beralih profesi dan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukannya sebelum ini. Jika langkah-langkahnya bijak, saya berkeyakinan ia akan mengalami transformasi tahap tiga (level keguruan).

Pelajaran kedua, Laskar Pelangi memberikan suntikan optimisme yang luar biasa bahwa di negeri ini orang bisa mengandalkan nafkah hidup dari menulis. Dalam ungkapan yang lebih bombastis, orang bisa menjadi kaya dengan menulis. Atau meminjam judul karya klasik Napoleon Hill (1937) Think and Grow Rich, kita bisa mengatakan write and grow rich.

Bagaimana tidak. Laskar Pelangi dijual seharga Rp 69.000,- atau Rp 138.000,- (hard cover berbonus CD). Sang Pemimpi dibanderol Rp 49.000,- dan Edensor dijual Rp 44.500,- per eksemplar. Dan sampai pertengahan Oktober 2008, Haidar Bagir memperkirakan ketiga novel tersebut sudah terjual sekitar 1,2 juta eksemplar. Artinya, kalau dihitung secara konvensional dengan royalti penulis yang 10% dari harga jual toko buku, maka Andrea Hirata sudah menjadi miliarder baru dalam kurun waktu tiga tahun (pertama terbit September 2005). Ini belum memasukkan keuntungan dari filmnya yang juga sukses dan terutama undangan bicara di berbagai tempat yang membuatnya mendapatkan honor-honor lain yang susah dilacak jumlahnya.

Seorang kawan yang melakukan perhitungan secara spekulatif mengatakan, bahwa dalam kurun waktu 5 tahun (2005-2010), uang yang mengalir ke kantong Andrea Hirata dari tetralogi Laskar Pelangi, akan melewati angka Rp 20 miliar. Jumlah yang fantastis, bukan?

Jika Andrea Hirata, penerbit Bentang, dan Haidar Bagir tidak menyangka bahwa novel Laskar Pelangi akan sefenomenal saat ini, maka lain lagi cerita buku Financial Revoution (FR) karya Tung Desem Waringin (TDW). Dalam konteks buku-buku panduan (how-to) atau swa-bantu (self-help), buku FR menarik untuk diperbincangkan, terutama dari aspek proses perencanaan penjualannya yang tidak galib. Kebetulan waktu terbitnya Agustus 2005, sebulan lebih awal dari Laskar Pelangi.

Untuk memastikan bahwa buku ini diterima oleh masyarakat, TDW selaku penulisnya memilih melakukan “revolusi” dengan caranya sendiri. Ia mengundang sejumlah wartawan untuk menyaksikan bagaimana ia berkuda menembus jalan Jenderal Sudirman sambil membawa kaver buku FR ditangannya, lalu mengadakan jumpa pers. Ia juga gencar mengiklankan buku dan seminarnya di harian Kompas untuk mendapatkan pesanan dimuka, sebelum buku itu sendiri terbit. Proses promosi itu sudah gencar dilakukan 2-3 bulan sebelum bukunya terbit.

Hasilnya? Buku tersebut mencatat rekor MURI sebagai buku yang paling banyak terjual pada hari pertama peredarannya di negeri ini: 10.511 eksemplar. Harganya dipatok Rp 85.000,- (softcover) dan Rp 125.000,- (hardcover). Lalu, data terakhir yang saya peroleh dari penerbit menunjukkan bahwa, sampai akhir September 2008 buku FR edisi hardcover terjual 55.072 eksemplar, dari jumlah totalnya 108.551 eksemplar. Pukul rata, selama 38 bulan penjualannya, FR terjual 2.850 eks/bulan (dalam kurun waktu yang hampir sama Laskar Pelangi terjual rata-rata 17.000 eks/bulan).
TDW tentu mendapatkan royalti di atas Rp 1 miliar dari buku FR itu. Namun, pendapatannya yang jauh lebih besar adalah undangan bicara sebagai efek dari publisitas yang gila-gilaan, sesuai dengan karakter dirinya yang “revolusioner”. Dibandingkan royalti yang diterimanya, publisitas buku itu telah mengalirkan puluhan kali lipat ke koceknya dari bisnis bicara.

Write and grow rich. Dua kasus yang saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa mulai terbuka peluang untuk menjadi kaya lewat jalur kepenulisan. Tidak soal apakah itu lewat cara Andrea Hirata atau cara Tung Desem Waringin. Yang penting, kalau kompetensi sebagai penulis di asah terus, maka upaya menafkahi hidup dengan menulis telah menjadi pilihan yang masuk akal di negeri ini.

Anda tertarik?

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 20

Menulis Buku Best-Seller

March 9, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Buku best-seller menarik untuk diperbincangkan.

Secara logika, kalau disebut best-seller, pastilah buku tersebut tercatat sebagai satu-satunya buku yang “terlaris” atau “paling laris”. Artinya, novel yang best-seller, tentulah merupakan satu-satunya novel yang terlaris di antara novel-novel lain yang beredar saat itu. Buku lain mungkin “terlaris” sebagai buku komik, buku keuangan, buku panduan (how-to), buku swa-bantu (self-help), buku politik, psikologi populer, filsafat, dan sebagainya. Intinya, karena disebut sebagai yang “terlaris”, maka tentunya cuma satu.

Buku saya yang bertajuk Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Buku Kompas, 2000), sempat menjadi buku best-seller selama beberapa tahun untuk kategori nonfiksi. Maksudnya, buku tersebut adalah buku nonfiksi yang paling laris menurut data Penerbit Buku Kompas. Buku itu mengalami 3-4 kali cetak ulang dalam tiga bulan pertama masa peredarannya di pasar. Dan saya sebagai penulisnya tidak melakukan apapun yang spektakuler, revolusioner, atau gilaan-gilaan dalam rangka publisitas untuk buku tersebut. Hampir semua penjualannya melalui jalur tradisional, yakni jaringan toko buku.

Belakangan, lewat publikasi di harian Kompas, 27 Februari 2008, saya ketahui bahwa di lingkungan Penerbit Buku Kompas, hanya ada dua buku nonfiksi yang sempat mengalami cetak ulang sampai kali yang ke-10. Buku itu adalah Menjadi Manusia Pembelajar dan Perang Pasifik karya almarhum P.K. Ojong. Itu sebabnya penerbit merasa perlu mengiklankan hal itu secara khusus. Namun saya tidak diberi tahun buku mana yang “paling laris” di antara dua judul tersebut.

Sampai disini, kriteria buku best-seller bisa diperjelas. Pertama, bukunya harus sudah terbit dan beredar di pasaran dalam kurun waktu tertentu. Kedua, catatan penjualan buku itu diperbandingkan dengan buku-buku sejenis dan terbukti penjualannya tertinggi untuk periode tertentu. Ketiga, predikat sebagai buku best-seller disandangkan kepada buku itu setelah datanya jelas—sehingga tidak mungkin buku mendapatkan label best-seller pada cetakan pertama saat baru beredar.

Jika kriteria yang agak ketat semacam itu hendak dipergunakan, maka ada beberapa soal perlu disepakati para pihak yang berkepentingan. Periode waktu edarnya apakah mingguan, bulanan, triwulan, semester, atau tahunan? Lalu catatan penjualan berdasarkan data seluruh toko buku, toko buku tertentu yang dominan, atau data penerbit yang melakukan cetak ulang berdasarkan pesanan toko buku? Bagaimana kalau penjualannya laku keras melalui program seminar dan pelatihan, tetapi catatan penjualan di toko buku tidak menunjukkan hal yang sama? Dan yang mungkin paling penting adalah siapa yang (mau dan dianggap mampu) melakukan pendataan ini?

Kategori Laris
Cara lain mendefinisikan buku best-seller adalah menentukan jumlah minimum penjualannya setiap bulan. Ini cara yang pernah dikemukakan Wandi S. Brata, Wakil Direktur Eksekutif Gramedia Pustaka Utama. Ketika trilogi pertama yang saya tulis—yakni Sukses Tanpa Gelar (Sept, 1998), Berguru Pada Matahari (Okt, 1998), dan Menerobos Badai Krisis (Okt, 1998)—beredar dipasaran, kami bersepakat bahwa bila dalam 6 bulan terjual minimum 6.000 eksemplar, buku tersebut dianggap best-seller. Artinya, ia dianggap buku-buku “yang laris” meski belum tentu yang “paling laris”. Jadi, ini pengelompokkan dalam arti kategori, tidak menunjuk pada satu buku yang “terlaris”.

Definisi semacam inilah yang agaknya paling banyak dianut oleh penerbit di Indonesia. Hanya saja, jumlah minimum penjualannya masih berbeda-beda, bahkan di internal kelompok penerbitan Gramedia sekalipun. Ada yang menggunakan indikator minimum 400 eks/bulan; dan ada yang menggunakan indikator minimum 850 eks/bulan selama 12 bulan bertutur-turut.

Dalam berbagai kesempatan memberikan pelatihan penulisan buku best-seller, saya mengusulkan untuk menggunakan standar penjualan minimum 6.000 eksemplar dalam 6 bulan pertama peredarannya sebagai kriteria buku best-seller. Dan dengan kriteria ini, saya dapat mengatakan bahwa dari 34 buku yang telah saya tulis—tiga di antaranya sebagai ghost-writer—lebih dari separuh memenuhi standar kategori best-seller; terjual antara 20.000 – 30.000 eksemplar tiap judulnya.

Bisakah Diprediksi?
Terus terang, saya tidak tahu bagaimana caranya menciptakan novel agar menjadi best-seller. Saya tidak memiliki pengalaman di bidang ini. Orang-orang seperti Ayu Utami, Dee, Andrea Hirata, dan Habiburrahman El-Shirazy, akan lebih kompeten untuk berbicara mengenai soal ini. Bagaimana pun saya percaya setiap proses kreatif memiliki pola yang bisa dipelajari. Ada pola yang sulit, ada pola yang mudah dipahami.

Pola yang relatif mudah dipelajari adalah buku-buku panduan dan swa-bantu. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, saya bisa menduga-duga buku-buku macam apa yang akan laris di pasar Indonesia. Tentu saja dengan menggunakan sejumlah asumsi yang berkaitan dengan profil penulis, tema naskah, gaya penulisan, dan momentum publisitas.

Penulis yang juga dikenal sebagai pembicara publik cenderung menghasilkan karya best-seller. Hermawan Kartajaya, Gede Prama, Rhenald Kasali, Mario Teguh, Andrie Wongso, dan Tung Desem Waringin, adalah contoh yang mudah disebut. Dan siapa pun yang menekuni “industri bicara”, boleh berharap cepat atau lambat karya mereka akan masuk dalam daftar best-seller.

Tema-tema yang potensial untuk menjadi best-seller bisa diolah dari sejumlah kata kunci berikut: kaya, cerdas, cantik, cinta, bisnis, wirausaha, Islami, bahagia, dan sesuatu yang bernuansa misterius. Apa saja yang dekat asosiasinya dengan kata-kata itu akan berpotensi untuk mendapatkan sambutan meriah dari pasar Indonesia.

Gaya penulisan juga penting. Safir Senduk telah menulis 5-6 buku mengenai perencanaan keuangan. Meski merupakan pelopor dalam bidang ini, buku-buku tersebut tidak mendapat sambutan yang istimewa. Namun, ketika ia menulis buku berjudul Siapa Bilang Jadi Karyawan Ngga Bisa Kaya?, sambutan pasar luar biasa. Buat saya tidak banyak perbedaan isi yang disampaikan, kecuali konteksnya disesuaikan dengan karyawan dan gaya penulisannya dibuat sangat ringan. Jadi, ini soal judul yang provokatif dan terutama gaya penulisan yang populer.

Suksesnya Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu dipicu oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah momentum publisitas dari The Secret-nya Rhonda Byrne. Belakangan, sejumlah toko buku meletakkan kedua buku tersebut di konter yang sama karena isinya dianggap “dekat”. Ada kawan yang mengatakan bahwa The Secret adalah Barat yang mengagumi Timur, sementara Quantum Ikhlas adalah Timur yang mengapresiasi Barat.

Jadi, bagi penerbit dan penulis yang bernafsu besar untuk menghasilkan karya best-seller dalam bidang buku panduan atau swa-bantu, perhatikanlah empat hal ini: profil penulis, tema naskah, gaya penulisan, dan momentum publisitas. Coba buktikan sendiri.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 33

Menulis Buku yang Dibeli dan Dibaca Orang

March 9, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship


aku tulis buku ini karena
aku berutang pada tuhanku
aku berutang pada rakyatku
aku berutang pada alam negeriku
aku berutang pada diriku

aku tulis buku ini karena
mungkin untuk itulah aku dilahirkan kini dan disini
di bumi pertiwi yang sedang bersedih hati
jadi, perkenankanlah kiranya
[Sumber: Menjadi Manusia Pembelajar, Kompas, 2000; xxxiii-xxxv]

Apa yang akan dipikirkan orang ketika membaca buku-buku berjudul Sukses Tanpa Gelar, Berguru Pada Matahari, dan Menerobos Badai Krisis? Aku tidak tahu. Namun, aku tahu bahwa ketiga buku itu adalah awal keterlibatanku dalam dunia penulisan buku. Dan, jika dipandang dari judul yang aku pilih, mudah-mudahan jelas bahwa aku menulis untuk menyemangati orang. Menyemangati orang-orang yang tak bergelar, yang tak sempat mengecap nikmatnya bangku kuliah, yang harapannya sering teraniaya, yang jumlahnya sangat banyak di negeriku ini. Menyemangati orang-orang untuk tidak saja belajar dari lembaga-lembaga persekolahan formal, tetapi juga yang mau belajar dari sekolah kehidupan, berguru pada air, matahari, rembulan, angin, pohon, padi, dan alam sekitarnya. Menyemangati orang-orang yang nyaris kehilangan perspektif karena diterpa badai-badai kehidupan, karier yang hancur, keluarga yang tercerai berai, korban PHK, dan sejenisnya.

Siapakah orang-orang yang akan bersedia membeli buku-buku dengan judul-judul berikut: Berwirausaha Dari Nol, Multilevel Marketing, 10 Kiat Sukses Distributor MLM, MLM dan Penggandaan Uang, Pesona Bisnis Direct Selling dan MLM, MLM di Era Internet, dan Meet, Learn, and Multiply? Berapa banyak orang-orang yang berminat atas buku-buku semacam itu? Aku harap yang akan berminat adalah mereka yang mencari alternatif penghasilan lewat jalur kewirausahaan, dan tentu saja para praktisi industri bisnis jaringan, multi-level atau network marketing. Dan karena momentumnya kurasa tepat—kondisi tahun-tahun krisis ekonomi 1998-2000—maka sejak awal aku sudah menduga bahwa buku-buku semacam itu akan ”meledak” di pasaran. Jadi, aku memang tak terlalu kaget ketika buku-buku yang dibuat seukuran saku itu mengalami cetak ulang berkali-kali. Rata-rata terjual antara 10 hingga 22 ribu eksemplar. Mestinya bisa dijual dua kali lebih banyak, sebab industri bisnis jaringan ketika itu sedang tumbuh dari sekitar 3 juta pelaku menjadi lebih dari 4 juta pelaku. Masalahnya, aku sudah tak ada waktu untuk ikut menjual buku-buku tersebut.

Ketika tahun 1999 Harian Kompas mulai memberi lebih banyak ruang untuk memuat artikel tentang perlunya pembaruan pendidikan formal, maka aku tergerak untuk menuliskan sejumlah catatan keprihatinanku di seputar tema ini. Aku kumpulkan sejumlah kliping untuk memancing ide, lalu aku cari pikiran pendukung dari buku-buku dengan tema yang sama. Maka lahirlah buku-buku berjudul Menjadi Manusia Pembelajar, Pembelajaran di Era Serba Otonomi, Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup, dan Mengasah Paradigma Pembelajar. Dengan judul-judul semacam itu aku berharap bisa ikut memprovokasi pikiran-pikiran kritis dan kreatif untuk merangsang proses-proses pembelajaran alternatif di masyarakat. Target pembaca yang aku incar terutama praktisi di dunia persekolahan yang menginginkan perubahan, dan praktisi di bidang pengembangan harkat dan martabat manusia [dh PSDM] yang bekerja di perusahaan. Dengan dukungan media promosi yang tepat dari penerbit, buku Menjadi Manusia Pembelajar ternyata mendapat respons paling banyak. Buku yang aku tulis selama dua setengah bulan itu—ini buku paling ”serius” yang pernah aku tulis sejauh ini—telah mengalami 8 kali cetak ulang di Penerbit Kompas. Mungkin itu buku nonfiksi yang paling laris dari seluruh buku yang pernah diterbitkan Kompas sampai hari ini.

Di kala aku menghadirkan buku-buku bertajuk Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang, Agar Menjual Bisa Gampang, Presentasi Efektif, dan Menjual Tanpa Hambatan, maka pasar yang aku incar adalah mereka yang mencari cara-cara atau teknik-teknik praktis untuk menulis, menjual, atau memberikan presentasi. Dan karena menulis, menjual, dan memberikan presentasi adalah kegiatan sehari-hari yang aku lakukan, maka dengan cepat buku panduan praktis itu bisa kubuat. Pasar ternyata mampu menyerap antara 15-21 ribu eksemplar per judul buku, dan sampai hari-hari ini masih mampu terjual sekitar 100 eksemplar per judul per bulan.

Pada kesempatan lain, bulan Juli 2004, aku terinspirasi oleh hadiah dari penyimpanan deposito di sebuah bank swasta. Mereka memberiku buku agenda tahun 2004. Lalu terbitlah ide untuk membuat agenda tanpa tahun, tanpa tanggal, tapi diperkaya dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang disusun mingguan. Karena tanpa tanggal dan tanpa tahun, maka agenda ini bisa mulai digunakan kapan saja. Aku hanya mencantumkan nama-nama hari dan membuat petunjuk cara menggunakan agenda yang unik tersebut. Ku pikir agenda kreatif macam ini bisa dijadikan kado ulang tahun atau kado akhir tahun. Ide ini aku kerjakan sekitar 3 hari kerja, dan kemudian kutawarkan ke Gramedia Pustaka Utama. Maka Oktober 2004 terbitlah buku Agenda Refleksi dan Tindakan: Untuk Hidup Yang Lebih Baik. Dalam dua belas bulan sudah dua kali cetak.

Tatkala aku membaca buku Terapi Tawa dan menemukan sejumlah fakta mengenai manfaat tertawa bagi kesehatan dan kebahagiaan seseorang, langsung muncul ide untuk membuat kombinasi antara fakta-fakta dengan cerita-cerita lucu. Lalu aku buat kerangkanya, dan aku minta seorang staf di kantorku untuk mengisi rangka tersebut. Hasilnya, terbitlah buku Be Happy – Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan. Rencananya, buku ini akan terbit berseri. Namun, aku masih ingin melihat respons pasar dalam 3 bulan pertama peredarannya [baru beredar saat tulisan ini kubuat].

Ada kalanya aku diminta menulis oleh kawan-kawan di media tertentu seperti Media Indonesia, Manajemen, Warta Ekonomi, Warta Bisnis, SWA, atau majalah-majalah intern organisasi tertentu. Mulanya tentu berupa artikel. Kalau kemudian berseri dengan tema tertentu, maka akhirnya pasti aku kumpulkan menjadi buku saku. Seperti buku Mengasah Indra Pemimpin dan Meet, Learn, and Multiply yang merupakan kumpulan tulisan tentang kepemimpinan di Warta Ekonomi dan Media Indonesia.

Begitulah kira-kira proses kreatifku dalam menulis buku. Ide-ide bisa muncul dari bacaan, bisa dari tontonan, bisa dari obrolan, bisa dari radio, bisa dari pertanyaan orang, bisa dari surat elektronik, dari milis, dari internet, dari lamunan, dari pengamatan, dan dari semua arah. Tempatnya pun tak ada yang sangat khusus. Di rumah, di mobil, di pesawat, di kantor, di restoran, di mal, dan dimana saja ide-ide bisa muncul tiba-tiba. Kalau sedang nyetir mobil dan idenya muncul, aku tak segan menepi sebentar untuk mencatat dulu ide tersebut sebelum melanjutkan perjalanan. Soalnya, kalau tak segera di catat akan hilang nanti. Aku selalu membawa kertas kecil disaku baju, supaya bila ide muncul sewaktu-waktu, aku akan sempat mencatatnya. Atau, bisa langsung aku ketik di laptop-ku. Kalau informasi dasarnya dari surat elektronik atau artikel di internet, tinggal aku copy–paste langsung, lalu kuberi judul sementara dan kusimpan. Di laptop-ku selalu tersimpan sejumlah draft artikel untuk dilanjutkan atau diperbaiki.

Mungkin karena aku mencari nafkah dalam industri pelatihan manajemen praktis dan kepemimpinan terapan, maka tulisanku banyak terinspirasi oleh hal-hal yang bertalian dengan itu. Juga karena pergaulanku lebih banyak dengan orang-orang bisnis, maka aku selalu memperhatikan segmen pasar mana yang aku harapkan membeli karya tulisku. Targetku, untuk tiap judul buku harus bisa terjual minimal 10.000 eksemplar. Dan untuk membidik target tersebut, judul buku memainkan peranan yang cukup penting. Bahkan aku seringkali menambahkan subjudul untuk lebih mempertegas apa yang boleh diharapkan oleh calon pembaca buku tersebut. Misalnya, Sukses Tanpa Gelar: Menuturkan Lima Belas Kisah Sukses Luar Biasa; atau Berwirausaha dari Nol: 10 Kiat Sukses dengan Modal Seadanya; atau Menjadi Manusia Pembelajar: Pemberdayaan Diri, Transformasi Organisasi dan Masyarakat Lewat Proses Pembelajaran; atau Be Happy: Memulung Keceriaan dari Sekolah Kehidupan. Ini aku lakukan karena aku ingin karyaku dibeli dan dibaca orang [menurut Mas Wandi yang tumpus lumus menangani buku nonfiksi di Gramedia, buku yang ”dibeli dan dibaca” orang di Indonesia umumnya ukuran saku dan harganya relatif murah---dan jenis buku itulah yang ingin aku tulis, memang]. Aku tidak menulis buku untuk dijadikan pajangan di ruang tamu.

Soal lain adalah isi cover belakang. Bagiku ini juga penting untuk diperhatikan. Hal-hal yang paling mendasar, atau paling penting, atau paling baik dari isi buku itu harus bisa ditonjolkan secara menarik. Misalnya, di cover belakang buku Be Happy dikutip ”Huahahaha. Sambil tertawa, buku saya yang ke-25 ini dipersembahkan kepada siapa saja yang merasa ingin lebih gembira, lebih ceria, dan lebih sehat dalam hidup. Di tengah republik yang sangat piawai menghadirkan duka nestapa dan kesedihan, buku ini saya harapkan dapat sedikit menghibur dan menguatkan, agar terpasok lagi optimisme dan energi untuk bertindak memperbaiki situasi di lingkungan terdekat. … Dan mari kita rintis kelompok-kelompok militan untuk mengkampanyekan gerakan DENGAN TAWA MEMBANGUN BANGSA. Huahahaha.”

Apakah aku punya target tertentu dalam soal menulis ini? Tentu saja. Tujuanku adalah mewariskan 100 judul buku kepada generasi pengganti, walau mungkin hanya beberapa judul saja yang masih akan tetap terbit ketika aku wafat nanti. Dan untuk mencapai tujuan tersebut aku menargetkan menulis 1 halaman per hari, 7 halaman per minggu, 365 halaman per tahun. Sejauh ini aku telah mempublikasikan 25 judul buku, jadi masih ada hutang 75 buku. Kalau tiap tahun dihasilkan 3 buku saja, maka di usia 66 tahun nanti 100 judul buku telah kutulis.

Mengapa aku bersemangat untuk tetap menulis? Mungkin karena aku telah merumuskan misi hidup pribadiku seperti ini: ”Aku ingin menyentuh hati orang, agar mereka menjadi yang terbaik dari dirinya, demi pengabdian pada masyarakat dan bangsanya.” Dan menulis adalah salah satu caraku untuk melaksanakan misi hidup yang demikian itu. Jadi, perkenankanlah kiranya.

Tabik Mahardika, Huahahaha!

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 22

Writer Schoolen

March 9, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Coba pikirkan pernyataan berikut ini, ”Dalam momen tertentu kehidupan kita, kemampuan mengungkapkan gagasan menjadi tulisan yang bisa dimengerti oleh orang lain, boleh jadi akan menentukan sejarah hidup kita selanjutnya.” Apakah pernyataan semacam itu bisa dianggap benar? Dan apakah setiap orang pernah mengalami suatu momentum di mana karya tulisnya memberikan dampak begitu besar?

Saya tidak tahu jawabnya. Namun, belakangan ini seorang perempuan muda bernama Eni Kusuma tengah mengalami apa yang saya sebut sebagai ”transformasi citra diri” lewat karyanya yang bertajuk ANDA LUAR BIASA!!! (Fivestar, 2007). Saya juga sempat menyaksikan bagaimana sebuah tumpukan naskah yang semula telah dianggap tak bernilai, kemudian mengubah pilihan-pilihan hidup seorang Edy Zaqeus, lewat buku kontroversinya KALAU MAU KAYA NGAPAIN SEKOLAH! (Gradien, 2004), yang mengalami cetak ulang belasan kali dan memberinya cukup modal untuk memulai sebuah penerbitan independen.

Saya pribadi memang mengalami banyak peristiwa yang bertalian dengan karya tulis. Lewat tulisan saya menumbuhkan citra diri sebagai orang yang berhasil ketika masih berusia remaja. Karya tulis ketika mahasiswa memberi saya nama dan nafkah, yang bahkan kemudian membawa saya ke dunia bisnis. Sulit sekali membayangkan kehidupan saya saat ini jika saya tidak belajar mengungkapkan gagasan melalui tulisan sejak usia belia dulu. Dalam banyak momen kehidupan saya, menulis tidak saja menjadi semacam terapi penghilang stres, tetapi juga memberikan nafkah lahiriah, memberikan nama baik, mendatangkan rasa hormat dan kagum, memperteguh tali silahturahmi, mendatangkan sejumlah sahabat baru, dan entah apalagi.

Bagi mereka yang sempat belajar di perguruan tinggi, sebagian besar tentu pernah menulis skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan. Pada momen itu, kemampuan menulis menentukan arah hidup. Sementara dalam dunia bisnis sehari-hari, sebuah sandek (sms), sebuah memo, sebuah surel (email), sebuah proposal atau sebuah makalah, ada kalanya akan menentukan masa depan dan karier seseorang. Dengan kata lain, kutipan pernyataan di awal tulisan ini, sekurang-kurangnya mengandung kebenaran dan dialami sejumlah orang.

Sejak tahun 2006 silam, saya pribadi mendapat kehormatan untuk memberikan pelatihan WRITING SKILLS di lingkungan Bank BCA. Pelatihan ini dimaksudkan untuk menolong pegawai yang akan naik jenjang karier dalam menyusun makalah berisi usulan perbaikan mengenai proses bisnis tertentu di departemennya. Makalah yang disusun menentukan sekitar 30 persen dari syarat kelulusan untuk naik ke jenjang karier yang lebih tinggi.

Ketika artikel pendek ini disusun, saya sendiri masih dalam tahap negosiasi untuk memberikan pelatihan WRITING SKILLS untuk kawan-kawan yang berkarier di Bank Mandiri. Dari informasi kawan yang menghubungi saya, pelatihan ini juga baru mulai dimasukkan ke dalam agenda pelatihan reguler karena dianggap penting.

Dalam berbagai kesempatan lain, saya juga berulang kali mendengar cetusan keinginan kawan-kawan di posisi manajer dan eksekutif perusahaan terkemuka di negeri ini, yang menaruh minat untuk bisa ”belajar menulis”. Mereka merasakan kebutuhannya, tetapi tidak memperoleh kesempatan untuk mengalami pelatihan WRITING SKILLS yang bernuansa bisnis, bukan pelatihan jurnalistik untuk calon-calon wartawan/wati. Apakah mereka melihat ada momentum dimana karya tulis mereka akan menentukan arah hidup berikutnya? Saya tidak tahu.

Yang jelas, pengamatan sekilas dan pengalaman pribadi tersebut di atas telah mendorong saya untuk mengajak sejumlah kawan mendirikan Writer Schoolen. Sebuah sekolah tanpa dinding yang memfokuskan diri untuk mengajarkan WRITING SKILLS dalam berbagai macam konteks. Dan sebagai langkah awal kita mencoba untuk membantu kawan-kawan manajer dan eksekutif yang menaruh minat, tetapi selama ini tidak mendapatkan layanan yang tepat untuk meningkatkan keterampilannya dalam soal tulis menulis.

WRITER SCHOOLEN, seperti mudah ditebak, merupakan kumpulan orang-orang yang selama ini terlibat dalam jaringan www.pembelajar.com yang saya mulai 14 Februari 2001 silam. Dengan pengalaman yang relatif menyentuh hampir semua aspek dalam industri berbasiskan karya tulis, Writer Schoolen sebenarnya siap mendampingi siapa saja yang serius ingin belajar menulis. Perpaduan antara penulis-penulis buku laris, pelatih-pelatih jurnalistik yang berpengalaman, dan jaringan penyunting, ghost writer, sampai penerbit yang independen maupun yang sudah beken, membuat layanan Writer Schoolen tampil unik dan holistik. Dan karenanya saya sungguh berharap komunitas ini akan eksis dan tumbuh menjadi komunitas penulis yang menunjukkan watak khasnya sebagai pembelajar sejati di sekolah kehidupan Indonesia.

Mari belajar menulis, belajar mengarang. Mari belajar mengekspresikan gagasan-gagasan yang cemerlang agar membuka peluang untuk karier yang lebih baik, membuka kesempatan untuk tampil secara berbeda, mempersiapkan warisan yang melampaui usia, membuka pintu-pintu kemungkinan dalam berbagai konteks kehidupan yang mengagumkan ini. Mari!

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 30

Memilih Buku “Lokal”

March 9, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Memilih buku “lokal”yang bermutu—dalam arti karya anak bangsa sendiri, bukan terjemahan— tidak selalu mudah. Apalagi bagi mereka yang baru mulai “bergaul” dengan buku dan ingin memastikan pilihannya adalah bacaan bermutu. Ada begitu banyak pilihan dan setiap hari pilihan itu bertambah banyak jumlahnya. Berikut beberapa saran yang perlu diperhatikan agar tak salah menjatuhkan pilihan.

Pertama, kenali minat Anda. Fiksi atau nonfiksi? Ilmiah akademis atau ilmiah populer? Filsafat, teologia, agama, ekonomi, politik, sosial, budaya, pemasaran, pengembangan diri, psikologi, sosiologi, manajemen, atau apa?

Kedua, perhatikan pengarangnya. Setiap bidang kajian, baik bersifat informatif, edukatif, atau pun rekreatif, memiliki pakarnya masing-masing. Mereka biasanya dikenal karena publikasi yang luas di media cetak maupun elektronik. Nama pengarang tertentu dapat memberikan gambaran minimum tentang mutu karyanya.

Ketiga, perhatikan penerbitnya. Hal ini penting terutama bila kita tidak mengenal pengarang terkemuka di bidang yang kita minati. Pilih saja penerbit buku terkemuka yang umumnya selektif menerbitkan karya penulis, mengingat mereka ikut mempertaruhkan nama besarnya dengan menerbitkan jenis buku tertentu.

Keempat, perhatikan judulnya. Pengarang yang baik tidak akan memberikan judul sembarangan. Dan judul yang baik seharusnya mewakili pesan-pesan pokok yang ingin disampaikan oleh penulisnya, terutama untuk buku nonfiksi.

Kelima, bacalah sinopsis atau komentar tentang buku tersebut. Umumnya sebuah buku yang baik memuat sinopsis atau komentar para pakar dibidang terkait. Sinopsis dan komentar ini umumnya ditampilkan pada cover belakang buku tersebut. Apakah semua itu menggugah minat untuk mengetahuinya lebih jauh?

Keenam, pertimbangkan harganya. Sebuah buku dengan berbagai macam format ukuran dijual dengan harga yang bermacam-macam. Umumnya untuk menilai apakah harga jual sebuah buku itu mahal atau tidak, dapat diperhitungkan tebal buku, ukurannya, dan harganya.

Dan sebagai parameter minimum untuk buku-buku “lokal”, harga jual yang rasional biasanya sekitar Rp 80,00-Rp 120,00 per halaman. Misalnya, buku dengan format yang bagaimanapun kalau tebalnya 280 halaman (xxxvi hlm + 244 hlm isi), maka harganya sekitar Rp 22.400,00–Rp 33.600,00 per eksemplar. Ini dengan kondisi harga kertas tahun 2000. Kalau ukurannya saku, tentunya bisa lebih murah.

Ketujuh, lihat cetakan ke berapa. Buku tertentu disebut-sebut sebagai buku terlaris (best seller books). Artinya, terlepas dari soal mutu isinya, buku itu banyak dibeli orang. Kebanyakan buku nonfiksi dicetak sekitar 3.000 eksemplar pada awalnya. Dan untuk konteks Indonesia, jika cetakan pertama itu habis sebelum 3 bulan, maka itu termasuk buku laris.

Kedelapan, lihat daftar isinya. Kebanyakan buku yang diterbitkan penerbit terkemuka dibungkus plastik yang membuat kita sulit melihat daftar isinya. Namun toko buku yang baik biasanya menyediakan 1-2 eksemplar yang tak terbungkus, sehingga calon pembeli yang berminat dapat lebih dulu melihat daftar isinya untuk mengetahui apakah hal itu berkesesuaian dengan minatnya.

Kesembilan, sangat baik bila kita berkesempatan membaca lebih dulu resensi buku yang kita minati. Sebagian majalah mingguan dan koran edisi minggu selalu menampilkan rubrik pustaka, timbangan buku, resensi, atau sejenisnya. Hal ini dapat membantu kita menyeleksi bacaan agar mendapatkan yang bermutu.

Kesepuluh, mintalah saran dari para pencinta buku yang kita kenal. Masukan dari mereka umumnya berharga untuk dipertimbangkan.

Memang, semua saran di atas tidak memberikan jaminan 100 persen. Namun tidak berarti tidak berguna sama sekali, bukan?

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 26