Happy Writing

July 29, 2011 by  
Filed under Uncategorized

Menulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawa saya ke dalam percengkeramaan dengan kekekalan. Artinya, membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkerama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-fisik, di mana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik).

Saat asyik menulis, saya bisa tak mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, di mana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan merajut ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya.

Waktu juga terasa berhenti. Saya pernah menulis sebuah tulisan sejak pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi.Nonstop. Tanpa berdiri sejenak pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu saya seolah-olah lepas dari ikatan waktu. Saya tersadar karena pintu kamar saya diketuk, lalu melihat jam tangan dan langsung terperanjat sendiri.

Bila sebuah konsep tuntas saya tuliskan, ada kelegaan yang besar. Ada kepuasan khusus yang bersifat mental dan spiritual. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas saya, cogito ergo sum. Dan bersiaf spiritual karena tulisan keberadaan saya sebagai homo significants, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaan atas “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum.

Pengalaman yang luar biasa itulah yang saya sebut happy writing.

Kalau Anda menulis, happy juga gak sih? Selamat menulis!

Judul : Happy Writing: 50 Kiat agar Bisa Menulis dengan “Nyasik”
Tahun Terbit :2010
Halaman : 312
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 9789792263244
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sudah dilihat sebanyak: 48

Mindset Therapy

July 29, 2011 by  
Filed under Uncategorized

Setelah sukses mempopulerkan kata “pembelajar” dan “pembelajaran” lewat buku Menjadi Manusia Pembelajar (Kompas, 2000), kali ini Andrias Harefa kembali menawarkan konsep pengayaan makna kata “belajar” dalam arti learn, unlearn, dan relearn. Belajar tidak saja dipahami sebagai kegiatan mendapatkan-mengumpulkan-memperoleh informasi, pengetahuan dan keterampilan, serta ilmu pengetahuan (learning); tetapi juga meninggalkan-melepaskan-membuang apa-apa yang tadinya susah dipelajari (unlearn); dan memperbaiki-meningkatkan-meluruskan apa yang sudah dipelajari itu (relearn).

Konsep yang ditawarkan dalam pengantar karyanya yang ke-37 ini sungguh pemikiran yang orosinil dan otentik, karena lahir dari pergulatan penulis selama 20 tahun lebih menjadi trainer dan pembicara profesional. Mengajar lebih dari 20.000 jam terbang; menjangkau lebih dari 200.000 orang di berbagai kota besar Indonesia, telah mendorong Andrias Harefa untuk berbagi renungan-renungan terbaiknya mengenai proses pembelajaran yang memanusiawikan manusia sebagaimana ia di ciptakan oleh Sang Pencipta Maha Agung.

Buku ini mencerahkan siapa saja yang membacanya, terutama para pengajar dan pembelajar, praktisi di bidang human resource, human capital, pengelola leraning center, trainer, dan pembicara public yang memandu proses-proses pembelajaran. Namun bukan itu saja, setiap orangtua yang concern mengenai soal-soal pendidikan dan pembelajaran juga akan mendapatkan manfaat dari buku ini.

Judul: Mindset Therapy: Terapi Pola Pikir, tentang Makna Learn, Unlearn, dan Relearn
Tahun Terbit : 2010
Halaman : 178
Ukuran : 14 x 21 cm
ISBN : 9789792257212
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sudah dilihat sebanyak: 55

Katro

July 28, 2011 by  
Filed under Motivational

Terlahir dalam keluarga pas-pasan dan cenderung miskin, DNA sukses orang yang satu ini nampaknya terselip dalam citra yang ditangkap oleh kawan-kawan semasa ia duduk di SD Purwogondo 2, Purwosari. Bakat dan talenta untuk sukses itu diwakili dengan kata-kata: usil, jahil, iseng, alias nyelelek, dan tak pernah bisa diam. Melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah Indraprasta, pendidikan formalnya berakhir di SMA Ibu Kartini, Jalan Sultan Agung, Semarang.

Lulus SMA tahun 1983, perjalanan hidupnya berputar di antara menganggur, jadi kernet angkot, dan jadi supir truk elpiji di Tanah Mas, Semarang.

Berbekal uang transport Rp 30.000,- dari Joko Dewo, temannya yang sudah lebih dulu merantau ke ibukota, wong ndeso yang satu ini mengadu nasib ke Jakarta tahun 1985. Dengan logat Jawa yang medhok, dan bahasa Indonesia yang belepotan, ia berjuang menafkahi hidupnya. Berulang kali bolak-balik Jakarta-Semarang dan bolak balik pula ia menjalani peran sebagai supir, tukang gali sumur pompa, MC hajatan tingkat kampung, dan berbagai kegiatan sekadar untuk menyambung hidup sampai tahun 1992. Setelah itu, ia naik pangkat sebagai supir pribadi Alex Sukamto, kemudian bekerja untuk orang Jepang, sampai 1995.

Ia mulai dikenal agak luas sejak menemani penyanyi cilik Joshua dalam video klip Air, yang lebih diingat sebagai album Diobok-obok. Bergaul karib dengan kawan-kawan di Radio SK (radio yang melahirkan Bagito, Taufik Savalas, Ulfa Dwijayanti, Komeng, dsb) dan berulang kali tampil bersama Srimulat, namanya melambung sebagai pembawa acara Empat Mata tahun 2007 (belakangan dimodifikasi jadi Bukan Empat Mata). Jadilah ia selebritas berpenghasilan miliaran rupiah per tahun. Wajahnya muncul di televisi lima hari seminggu bahkan kadang lebih. Impiannya telah menjadi kenyataan.

Ira Lathief dalam buku Tukul Arwana: Kumis Lele Rezeki Arwana, merangkum kisah hidup Wong Ndeso, Katro, dan Kutukupret sukses ini dengan menarik. Siapa saja yang haus resep sukses dapat menggali inspirasi dari Tukul.

Pertama, Tukul hidup dengan ambisi tunggal: menjadi pelawak terkenal yang masuk televisi. Ambisi itu sudah dipupuk sejak mengikuti berbagai lomba lawak tingkat kampung, kabupaten, hingga propinsi, diusia sekolah menengah. Ia dan teman-temannya sering juara, mesti hal itu tidak kunjung membuatnya mendapatkan nafkah yang layak. Hebatnya, ia bisa terus memelihara dan menumbuhkan ambisi itu sampai lebih dari 20 tahun. Segala macam pekerjaan yang dilakukannya untuk bertahan hidup, tidak membuat ambisinya surut. Penderitaan hidup tidak berhasil “membunuh” ambisi tunggal tersebut. Ada persistensi, ketekunan, dalam berusaha, yang sering disebutnya sebagai “kristalisasi keringat”.

Kedua, Tukul belajar bergaul dan mau menerima masukan dari berbagai orang yang ditemuinya. Dengan cara itu ia menjadi mudah diarahkan. Rammon Tommibens, yang bersama Harry De Fretes pernah memberinya tempat untuk tampil di Comedy Cafe, mendorong ia untuk membaca buku. Pergaulan dengan Rammon menyadarkan Tukul bahwa “Orang miskin harus merevolusi dirinya untuk maju. Kalau mau maju harus baca buku. Banyak baca buku akan mengubah nasib.” Dan begitu giatnya Tukul membaca, khususnya buku-buku yang terkait kepribadian orang berdasarkan tanggal lahir, shio, primbon, dan sebagainya, ia kemudian bisa bergaya seperti peramal sifat dan kepribadian orang. Pengetahuan ini memudahkan ia masuk ke lapisan orang-orang yang memang suka “ditebak” kepribadiannya.

Ketiga, Tukul diakui teman-temannya memiliki disiplin yang mengagumkan sebagai pelawak. Jika pentas Srimulat di mulai pukul 9, maka pukul 8 ia sudah ada di lokasi. Hal ini juga menunjukkan adanya antusiasme yang luar biasa dalam dirinya untuk menghibur orang, menyenangkan audiensnya. Dalam soal ini Tukul lebih mirip militer ketimbang seniman. Ia punya disiplin.

Keempat, Tukul membuat dirinya mudah dihubungi. Justru karena dirinya belum terkenal, maka ia merasa perlu membuat kartu nama agar bisa dihubungi orang. Hal ini bukan sesuatu yang galib untuk pelawak tahun 80-90an.

Kelima, Tukul membangun brand dan keunikan dirinya dengan berbagai cara. Mulai dari “Kembali ke laptop”, “Puas, puas, puas!”, “Tak sobek-sobek mulutmu!”, berbahasa Inggris dengan sok-sokan, menyebut dirinya sebagai Cover Boy dengan nama Reynaldi, sampai tepuk tangan gaya monyet dan memanyunkan bibir atau menyisir rambut dengan jari-jarinya. Ini membuatnya menjadi khas, walau tidak semua hal itu orisinal tetapi modifikasi dari apa-apa yang semula ditirunya dari orang lain. Namanya pun berulang kali dimodifikasi dari Tukul Kelawu Kethek, Tukul Piranha, Tukul Julung-julung, Tukul Mujair, Tukul Sapu-sapu, sebelum akhirnya Tony Rastafara, menyarankannya menggunakan Tukul Arwana sebagai nama panggung.

Keenam, Tukul juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan berusaha untuk tidak melupakan asal usulnya. Ia punya rumah yang difungsiikan sebagai Posko Ojolali, tempat teman-temannya ditampung dan sekaligus tempat evaluasi penampilannya. Dalam berbagai kesempatan syuting, ia melibatkan 20-an kawan-kawannya agar ada semacam distribusi rezeki. Dan itu sudah dilakukannya sejak masih susah dulu. Jika dapat kesempatan manggung dan dapat honor, ia suka mentraktir teman-temannya.

Ketujuh, Tukul berusaha mengenal audiensnya, menghargai dan melibatkan mereka. Menyanyi, main gitar, dan berbagai hal dilakukan Tukul untuk membuat audiensnya senang. Bahkan, menurut Tarzan, Tukul adalah orang pertama yang pernah mengusulkan agar Srimulat mengumpulkan penonton berbayar untuk menjaga pamor.

Terakhir, Tukul juga dikenal sederhana. Ia tidak punya kartu kredit. Makanan favoritnya adalah oseng-oseng kangkung, telur mata sapi, dan sambal petai. Ia tetap gagap teknologi, walau waktu kerja “dipaksa” menggunalkan laptop.

Jika Tukul punya DNA sukses, siapa yang tidak?

*) Tulisan ini juga di muat di Majalah Anda Luar Biasa
*) Andrias Harefa, mindset therapist, penulis 38 buku best-seller; trainer/speaker coach berpengalaman 20 tahun; pendiri www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 132

Bodoh

November 25, 2010 by  
Filed under Motivational

Sebuah cerita menelusup masuk ke BBM (Blackberry Mesenger) saya. Cerita lama yang berulang kali saya peroleh dari sejumlah kawan. Namun, ini kali ingin saya olah menjadi tulisan.

Disebutkan, seorang pria Tionghoa pergi ke suatu bank di New York City dan berniat
untuk meminjam uang sebesar US$ 5.000. Uang itu akan digunakan untuk perjalanan bisnis ke China selama dua minggu.

Bankir yang melayani pria tersebut mengatakan bahwa bank membutuhkan suatu jaminan untuk pinjaman tersebut. Pria Tionghoa itu setuju. Ia menawarkan mobil Ferrari baru yang diparkir di depan bank sebagai jaminan atas pinjamannya.

Bankir setuju menggunakannya sebagai jaminan. Setelah pria Tionghoa tersebut pergi, sang bankir dan pegawai-pegawai bank tersebut menertawainya. Mereka menganggap pria Tionghoa itu bodoh. Siapa yang tidak bodoh, jika menggunakan mobil Ferrari baru seharga US$ 250.000 sebagai jaminan terhadap pinjaman sebesar US$ 5.000 saja.

Seorang petugas kemudian memarkir mobil Ferrari tersebut ke dalam underground garage milik bank tersebut. Dua minggu kemudian, pria Tionghoa tersebut kembali. Segera ia membayar utang sebesar US$ 5.000 ditambah bunganya sebesar US$ 15.41.

Pegawai bank berkata, “Tuan, kami sangat senang bisa berbisnis dengan anda, dan transaksi ini berjalan dengan lancar. Tetapi terus terang saja, kami sedikit bingung. Ketika Anda pergi, kami mengecek informasi tentang Anda dan mengetahui bahwa anda adalah seorang miliarder. Mengapa anda repot-repot meminjam uang sebesar US$ 5.000?”

Si pria Tionghoa membalas sambil tersenyum, lalu berkata “Dimana lagi tempat di New York City yang bisa digunakan untuk memarkir mobil saya dengan aman hanya dengan harga $15.41, selama dua minggu?”

Ceritanya berhenti sampai di situ.

Lalu apa maknanya?

Setiap orang yang membaca cerita itu dapat beropini, dapat memberikan makna menurut selera, wawasan dan kaca matanya masing-masing.

Kawan saya, Her Suharyanto, misalnya. Trainer penulisan dan ghost writer jagoan pemilik situs jurutulis.com itu, memberi respons singkat “Pantesan kaya…” Ia mengangap pria Tionghoa itu menjadi kaya karena cara berpikirnya yang luar biasa itu. Sementara para bankir yang melayaninya terjebak dalam kotak pikiran standar sebagai orang bank. Mereka tidak menghitung biaya penitipan barang jaminan, tetapi hanya menghitung bunga pinjaman menurut standar konvensional.

Saya sendiri meletakkan cerita tersebut dalam konteks resep sukses. Jika pria Tionghoa itu mewakili figur orang sukses, maka salah satu resepnya adalah kemampuan untuk menerima diri dianggap “bodoh” (oleh para bankir) ketika justru sedang melakukan sesuatu yang pintar.

Saya perlu mengaku dengan jujur bahwa saya sendiri sangat tidak suka dianggap bodoh. Saya suka menampilkan diri sebagai orang yang pintar, bahkan sering sok pintar. Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berhasil menulis 38 buku yang mayoritas best-seller, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya bisa bertahan dalam profesi sebagai trainer dan pembicara motivasi selama 20 tahun terakhir, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memenangkan kontrak memberikan pelatihan selling skill di jaringan dealer mobil Toyota seluruh Indonesia sepanjang 1993-1997, bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya memberikan pelatihan kepemimpinan dan manajemen terapan kepada ribuan supervisor dan manajer di PT Charoen Pokhpand (2003-2005), ribuan lagi di Bank OCBC NISP (2005-2007), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya berkesempatan memberikan sesi-sesi motivasi kepada hampir semua pekerja di perusahaan alat berat terkemuka seperti PT United Tractors (sejak 1992 sampai sekarang), bukan? Kalau tidak pintar, mana mungkin saya dipercaya melatih para internal trainer di berbagai perusahaan terkemuka; mendampingi ratusan orang belajar menulis lebih baik dan menuntaskan citacita mereka untuk menulis buku-buku populer; dan seterusnya.

Tetapi sesungguhnya disitulah kebodohan saya. Saya sering tidak mampu melihat peluang dan kesempatan di luar kotak berpikir sebagai trainer atau sebagai penulis. Saya terpenjara oleh sistem berpikir yang telah saya bangun bertahun-tahun, sehingga mudah menganggap orang lain yang berpikir di luar cara tersebut sebagai orang bodoh. Saya tak ubahnya seperti para bankir yang dengan gembira meminjamkan uang US$ 5.000 kepada seorang pria yang cukup “bodoh” untuk menjaminkan sebuah Ferrari baru.

Pada hal, andai saya bersedia untuk lebih membuka pikiran, mau menantang diri untuk thinking outside the box, maka boleh jadi saya bisa memasuki berbagai situasi lain diluar pekerjaan sebagai trainerpreneur dan writerpreneur yang sudah saya kembangkan selama ini.

Jadi, resep sukses kali ini adalah anjuran “jangan sok pintar, tetapi tetaplah merasa bodoh, dan bertanyalah untuk dapat memahami pola pikir orang lain yang Anda anggap lebih sukses dan lebih bahagia dari Anda”. Merasa bodoh itu penting, sepanjang hal itu mendorong kita untuk maju.

Bukan begitu?

* Andrias Harefa
Mindset Therapist; Penulis 38 Buku Best-Seller
Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun; Pendiri www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 48

Orgasmic Writing

November 22, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship


Menulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawa saya ke dalam percumbuan dengan kekekalan. Artinya, menulis membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkerama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-fisik, dimana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik).

Saat asyik menulis, saya bisa tak mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, dimana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan mencumbui ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya.

Waktu juga terasa berhenti. Saya pernah menulis sebuah tulisan sejak pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi. Nonstop. Tanpa berdiri sejenak pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu saya seolah-olah lepas dari ikatan waktu. Saya tersadar karena pintu kamar saya diketuk, lalu melihat jam tangan dan langsung terperanjat sendiri.

Bila sebuah konsep tuntas saya tuliskan, maka ada kelegaan yang besar. Ada kepuasan khusus yang agaknya hanya bisa disetarakan dengan fenomena orgasme yang bersifat mental dan spiritual. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas saya, cogito ergo sum. Dan bersifat spiritual karena tulisan bermain di wilayah makna, mengejawantahkan keberadaan saya sebagai homo significants, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaannya atas “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum.

Pengalaman yang luar biasa itulah yang saya sebut orgasmic writing. Bukan apa-apa. Nama yang diusulkan oleh kawan muda Edy Zaqeus itu memang terasa, terdengar, dan terlihat paling dekat dengan sensasi yang dimunculkan dalam kegiatan menulis itu sendiri.

Anda punya pemikiran atau nama lain?

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 43

Menulis Bikin Cantik

September 1, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Sejumlah penelitian para profesor biologi dan psikologi ditulis dalam buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Disana, antara lain, tertulis pendapat James W. Pennebaker, “menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang membangkitkan rasa puas dan lega”.

Fatima Mernissi, yang oleh sebagian orang disebut sebagai pemikir-penulis, juga pernah menyarankan, “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa.” Ia juga mengatakan bahwa, “menulis lebih baik daripada operasi plastik.”

Kedua alinea di atas saya kutip begitu saja dari buku Fahd Djibran yang berjudul Writing is Amazing. (Juxtapose, 2008). Sayang sekali saya tak berkesempatan membaca buku-buku yang disebutkan Djibran.

Bagaimana pun saya percaya bahwa menulis membuat Anda lebih “cantik” dalam pengertian yang seluas-luasnya.

Mau “cantik”? Menulislah.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 43

Respons Pembeda

July 7, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship


Untuk waktu yang cukup lama saya sering memikirkan pertanyaan sederhana ini: apa sih faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan trainer dan pembicara publik yang biasa-biasa saja?

Faktor latar belakang pendidikannya bisa saja muncul sebagai jawaban pertama atas pertanyaan tersebut. Bukankah orang-orang yang terpelajar dan bergelar sarjana, magister, master, apalagi doktor bidang studi tertentu banyak yang menjadi trainer dan pembicara publik yang handal? Mungkin ada benarnya. Namun tak sulit mencari contoh orang-orang bergelar yang merupakan pembicara membosankan.

Faktor kecerdasan emosionalnya mungkin menjadi jawaban lain. Mereka yang punya kontrol diri baik dan pandai membawakan diri dalam pergaulan sosial, tentu akan menjadi trainer dan pembicara publik yang handal. Saya sepakat. Namun cukup mudah untuk menyebutkan nama sejumlah kawan yang luas pergaulannya, memiliki jaringan sosial luar biasa, namun sebagai trainer dan pembicara publik, ia tidak nampak memesona.

Bagaimana dengan faktor sertifikasi dalam bidang yang spesifik, seperti sertifikasi MBTI, DISC, atau NLP dan berbagai variannya? Bukankah mereka yang memiliki sertifikasi dalam bidang-bidang yang terkait ilmu psikologi dan ilmu syaraf terapan; lebih khusus lagi mereka yang mempelajari jenis-jenis kecenderungan kepribadian dan jurus-jurus komunikasi intrapersonal maupun interpersonal, bahkan ilmu pemrograman otak dan pikiran bawah sadar; seharusnya menjadi trainer dan pembicara publik yang luar biasa? Seharusnya demikian, saya kira. Masalahnya, saya mengenal secara pribadi kawan-kawan dengan segepok sertifikasi internasional dalam bidang-bidang tersebut, yang tidak menunjukkan kualitas prima ketika memainkan perannya sebagai trainer dan pembicara publik. Sebagian mengajarkan teknik-teknik komunikasi dengan cara-cara yang tidak komunikatif.

Untuk waktu tertentu, saya beranggapan bahwa semua jawaban di atas ada benarnya. Persoalannya adalah saya merasa tidak puas dengan semua jawaban itu. Saya mencari jawaban yang lebih baik; jawaban yang tidak saja akan memenuhi rasa ingin tahu saya secara intelektual, tetapi juga yang akan menolong saya untuk bisa memperbaiki diri. Saya berkeyakinan bahwa—sekalipun saya memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun—selalu ada hal yang bisa saya perbaiki dalam diri saya untuk memainkan peran sebagai trainer dan pembicara yang lebih baik.

Suatu hari, saya menerima kiriman cerita klasik Cina Kuno yang justru memberikan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini. Cerita itu begitu tegas menjawab faktor terpenting apa yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja.

Ceritanya adalah sebagai berikut :

Ada seorang lelaki yang menjelang ajalnya memberikan warisan masing-masing sebuah toko kelontong dan sebuah wasiat berupa nasihat penting kepada kedua anaknya. Disaksikan oleh istrinya, ia berpesan, “Anakku, jika kalian ingin membahagiakan aku di alam sana, maka lakukanlah dua pesanku ini. Pertama, jangan pernah menagih utang kepada orang yg berutang kepadamu; dan kedua, jika kalian pergi ke dan pulang dari toko yang aku wariskan kepadamu, jangan sampai wajahmu terkena sinar matahari.” Dengan pesan yang tak galib itu, ia pun wafatlah.

Waktu berjalan terus. Dan lambat laun ada hal yang menarik perhatian janda almarhum, ibu kedua anak lelaki tadi. Ia menyaksikan bagaimana dari tahun ke tahun anaknya yang sulung bertambah kaya, sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Mereka mendapatkan warisan sebuah toko yang nilainya relatif sama. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pada suatu hari, sang Ibu menanyakan hal itu kepada si bungsu yang sedang berkunjung ke rumahnya. Si bungsu pun menjawab, “Ini karena aku mengikuti pesan almarhum ayah. Ayah berpesan bahwa aku tidak boleh menagih utang kepada orang yang berutang kepadaku; akibatnya modalku susut karena orang tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Ayah juga berpesan supaya kalau aku pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya, tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya aku bisa berjalan kaki saja. Ini membuat pengeluaranku bertambah banyak. Jadi, semua ini terjadi karena aku menaati pesan Ayah”. Si Ibu terdiam dan tak tahu harus berkata apa.

Hari berikutnya ia menemui anak yang sulung dan bertanya bagaimana ia bisa bertambah kaya dari tahun ke tahun. Ibu yang semakin tua ini ingin tahu rahasia sukses si sulung agar bisa diajarkan kepada si bungsu. Si sulung pun menjawab,

“Aku berhasil karena menaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya aku tidak menagih kepada orang yang berutang kepadaku, maka aku hampir tidak pernah mengutangi orang lain, sehingga tak perlu menagih. Ayah juga berpesan, agar aku tidak sampai terkena sinar matahari ketika berangkat ke toko atau pulang dari toko ke rumah. Karena itu aku berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Tokoku buka paling pagi dan tutup paling malam, sehingga bisa melayani lebih banyak pembeli dan menjadi laris. Jadi semua ini aku lakukan untuk menaati pesan almarhum Ayah.”

Bagi saya, cerita itu memberikan jawaban yang lebih baik atas pertanyaan apakah faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik yang jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja. Dan jawaban itu adalah: respons mereka terhadap klien dan audiens yang mereka hadapi.

Trainer dan pembicara publik yang jempolan terlatih untk selalu memberikan respons terbaik mereka atas permintaan klien-kliennya. Mereka memikirkan kepentingan kliennya dengan sungguh-sungguh dan tidak sungkan memberikan masukan terbaik agar kepentingan sang klien terakomodasi dengan baik. Mereka tidak ragu untuk menolak permintaan klien, jika mereka tahu bahwa apa yang diharapkan klien bukan hal yang bisa mereka berikan. Tak jarang mereka merekomendasikan temannya yang dianggap lebih kompeten untuk bisa memenuhi kebutuhan dan kepentingan kliennya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh trainer dan pembicara publik yang jempolan terhadap audiens yang mereka hadapi. Mereka melatih diri untuk peka membaca situasi dan keadaan psikologis audiens yang mendengarkan mereka; peserta yang sedang mereka latih. Mereka membaca bahasa tubuh dari mayoritas audiensnya dan memberikan respons terbaiknya atas situasi yang berkembang dari waktu ke waktu. Audiens yang ngantuk mereka segarkan dengan humor atau gerakan yang menghilangkan kantuk. Audiens yang mulai bosan mereka antusiaskan kembali dengan lagu atau ajakan untuk melakukan hal-hal tertentu sebagai energizer. Audiens yang sinis mereka tanggapi dengan positif dan kreatif agar menjadi kooperatif.

Sama seperti dua orang anak yang mendapat warisan dan wasiat berupa pesan yang sama dari ayah yang sama, namun yang menjadikan mereka miskin atau kaya bukanlah warisan atau pesan ayahnya. Yang menjadikan mereka miskin atau kaya adalah bagaimana mereka merespons pesan terakhir ayahnya itu sesuai dengan makna yang mereka cerna dengan menggunakan semua potensi terbaiknya.

Demikian juga para trainer dan pembicara publik yang hebat dan yang biasa-biasa saja akan menghadapi klien dan audiens yang memiliki banyak persamaan dimana-mana. Klien dan audiens yang sama-sama menuntut yang terbaik dari mereka; klien dan audiens yang tidak suka dibiarkan mengantuk atau bosan dengan kalimat-kalimat yang menjemukan; klien dan audiens yang ingin dirinya diperhatikan, dihargai, bahkan disanjung dengan jujur; klien dan audiens yang tidak suka diremehkan apalagi dianggap bodoh dan dipermalukan; klien dan audiens yang kadang menyenangkan dan kadang menjengkelkan; klien dan audiens yang sebagian cerdas dan sebagian biasa; klien dan audiens yang ingin menonjol dan yang kalem; klien dan audiens yang membutuhkan suntikan semangat; klien dan audiens yang ingin meningkatkan kemampuan dirinya, yang ingin menjadi lebih percaya diri; klien dan audiens yang ingin lebih mampu berkomunikasi; dan seterusnya.

Jadi, saya percaya bahwa faktor terpenting yang membedakan trainer dan pembicara publik jempolan dengan mereka yang biasa-biasa saja adalah respons yang mereka berikan kepada klien dan audiensnya dan aneka ragam situasi. Mereka terlatih untuk memberikan respons terbaiknya; respons yang menunjukkan semua kemampuan dirinya; entah ia berpendidikan tinggi atau tidak; entah mereka dianggap memiliki kecerdasan emosi atau tidak; entah mereka menunjukkan kecerdasan linguistik atau tidak; entah mereka memiliki sertifikasi ini dan itu atau tidak; dan seterusnya. Respons terbaik pada setiap situasi dan kondisi nyata, itulah faktor pembeda terpenting.

Sejak saya memahami hal ini, maka saya tidak pernah lagi diganggu oleh pertanyaan di awal tulisan ini. Saya hanya perlu membuat sebuah keputusan yang kuat dalam diri saya bahwa saya akan belajar memberikan makna dan respons terbaik kepada klien dan audiens yang saya layani. Sekadar merespons tidaklah cukup. Respons terbaik, itulah yang ingin saya berikan kepada klien dan audiens yang mengundang saya melayani mereka.

Anda setuju, bukan?

* Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Telepon SEKARANG ke 021-460 5757; 021-3260 3383; Hendri 0815 8963 889
www.pembelajar.com; www.proaktif.biz; www.andriasharefa.com

Sudah dilihat sebanyak: 27

Kepepet Itu Penting

June 22, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Saya percaya, sampai derajat tertentu, 8 dari 10 orang bisa menulis artikel atau buku. Sebab menulis artikel dan 1-2 buku dengan ketebalan 100-an halaman tidaklah memerlukan kecerdasan ekstra. kecerdasan orang biasa seperti saya sudah lebih dari cukup.

Mengapa saya percaya demikian? Ada beberapa alasan. Yang paling mudah disebut adalah dengan mengamati kawan-kawan yang bekerja sebagai wartawan. Sebagian yang saya kenal, saya anggap tidak terlalu cerdas. Sebagian lagi bahkan membuat saya berpikir betapa mudahnya menjadi wartawan kalau kualifikasinya seperti dia-dia itu. Kenyataannya, entah cerdas atau tidak, wartawan bisa menulis setiap hari. Sekali lagi: setiap hari. Karena apa? Karena tenggat waktu (dead-line) alias kepepet.

Alasan kedua datang dari pengamatan di kampus. Sejumlah kawan yang tulisannya saya anggap luar biasa membingungkan, eh ternyata mampu menyelesaikan skripsinya dengan baik. Entah cerdas, setengah cerdas, atau tidak cerdas sama sekali, banyak kawan saya yang sukses menulis skripsi tanpa menjiplak. Karena apa? Dugaan saya juga karena kepepet, terdesak batas waktu.

Bayangkan, kalau dengan menulis sebuah artikel, atau menulis sebuah buku saku, orang yang paling Anda cintai akan diijinkan hidup; sementara kalau tidak menulis mereka akan dihukum mati; maka bisakah Anda menyelesaikan tulisan yang diminta?

Dalam menulis, perasaan kepepet itu penting.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 37

Menulis Itu Pekerjaan Tangan

May 25, 2009 by  
Filed under Writerpreneurship

Saya sering mengatakan bahwa menulis itu gampang. Untuk bisa menulis, hemat saya, tidak diperlukan bakat khusus. Ibarat berenang, orang tak perlu merasa berbakat untuk bisa berenang. Ibarat naik sepeda, orang tidak perlu bicara soal talenta kalau mau belajar naik sepeda. Yang diperlukan adalah praktik berkelanjutan alias pembiasaan. Yang diperlukan adalah tangan yang mengetik, mewujudkan gerakan gagasan menjadi sesuatu yang terbaca seperti tulisan ini.

Kawan saya, seorang penyunting muda yang cerdas, menyimpulkan bahwa bagi orang seperti saya, menulis itu mungkin dipahami sebagai pekerjaan tangan, bukan pekerjaan pikiran. Kalau menulis merupakan pekerjaan pikiran, maka diperlukan kecerdasan khusus untuk itu. Namun, menulis sebagai pekerjaan tangan tidak memerlukan kecerdasan ekstra.

Saya kira kawan saya benar. Bagi saya menulis itu pertama-tama dan terutama adalah pekerjaan tangan. Tak perlu susah berpikir bagaimana menulis atau mulainya dari mana. Langsung saja duduk dan tulis (ketik) apa yang ada dalam pikiran. Inilah yang pertama-tama dibutuhkan dalam tahap awal. Dan setelah terbiasa menulis, maka hal-hal lain bisa dipelajari untuk menghasilkan tulisan yang makin berkualitas.

Dengan pemahaman yang demikian itulah saya membentuk komunitas Writer Schoolen (1 Mei 2007) yang membantu ratusan orang menemukan kembali kemampuannya menulis; kemampuan yang telah ada di dalam dirinya sendiri. Dan saya bersyukur bahwa lewat komunitas ini semakin banyak orang menulis dan menulis. Belasan alumni Writer Schoolen bahkan telah menulis buku yang diterbitkan penerbit-penerbit terkemuka, termasuk Gramedia Pustaka Utama.

Entah mengapa, saya bahagia dengan hal-hal sederhana semacam itu.

*) Andrias Harefa. Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-Seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 tahun. Pendiri www.pembelajar.com.

Ingin belajar menulis Artikel dan Buku Best-Seller? Hubungi 021-460 5757 atau lihat skedulnya di www.pembelajar.com

Sudah dilihat sebanyak: 16

Trainer Rp 7 M

March 30, 2009 by  
Filed under Trainerpreneurship

“Berapa sih penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer profesional di Indonesia?,” tanya seorang kawan dengan nada meremehkan profesi trainer. Ia bekerja sebagai pengusaha skala menengah dengan karyawan 100-an orang. Sebagai pemilik sebuah usaha dagang (trading company), ia sungguh tak paham siapa yang mau membayar jasa pelatihan yang ditawarkan para trainer. Baginya, trainer itu seperti pengajar sekolah atau dosen yang penghasilannya tidak menjanjikan untuk hidup secara memadai (menurut ukurannya, tentu). Saya menanggapi pertanyaannya dengan tersenyum. Belum tahu dia rupanya.

Dalam kesempatan lain, seorang pimpinan lembaga pengorganisasi pelatihan (training organizer) di Surabaya, berbisik pada saya, “Eh sudah tahu belum, trainer itu tahun lalu menambah kekayaannya sekitar Rp 7 M hanya dari kegiatan pelatihan saja. Rata-rata sebulan ia bicara di 15 pertemuan di berbagai kota besar dengan honor Rp 35 juta sekali bicara selama 3-4 jam.” Saya menanggapi bisikannya dengan senyuman. Sudah tahu dia rupanya.

Kawan lain, yang sudah fokus menafkahi keluarganya dari bisnis bicara (pelatihan) selama lima tahunan, suatu kali ditelepon mantan atasannya 7-8 tahun silam. Singkat cerita, sang mantan atasan di perusahaan lama yang sudah pindah ke perusahaan baru dan sekarang menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan multinasional itu, memerlukan manajer senior untuk bidang teknologi dan informasi. Terkesan atas kinerja kawan saya yang menjadi stafnya di masa lalu, maka ia ingin kembali mempekerjakan kawan saya itu dengan posisi, gaji, dan fasilitas yang jauh lebih baik. Kawan saya merespons ajakan tersebut dengan berkata mantap, “Maaf ya pak. Bukan apa-apa. Tawaran gaji yang bapak sebutkan tadi adalah honor yang saya terima sekali bicara selama 2 jam di pertemuan-pertemuan perusahaan yang mengundang saya. Jadi pasti tidak menarik buat saya. Dan lagi saya sudah bosan pak mengikuti ritme kerja tak masuk akal, bangun pagi menerobos kemacetan, dan pulang malam dengan masalah yang sama juga bertahun-tahun. Sekarang saya bebas menentukan jam kerja dan penghasilan tidak kalah dengan manajemen puncak perusahaan terkemuka. Maaf lho pak, bukan sombong, cuma sharing saja.” Mantan atasannya langsung bengong dan terkagum-kagum. Mendengar cerita itu, saya menanggapinya dengan senyuman. Sudah paham dia rupanya.

Cerita yang saya pungut dari ketiga kawan di atas cukup mewakili apa yang terjadi dengan profesi trainer hari-hari ini (saat tulisan ini dibuat). Sebagian besar orang masih belum tahu bahwa trainer mulai berkembang menjadi profesi di tanah air. Berkembang dalam arti kehadirannya mulai dirasakan, meski belum cukup dipahami. Ia muncul dan menjadi subur bersamaan dengan derasnya arus pembelajaran berkelanjutan. Makin banyak perusahaan menyediakan anggaran khusus untuk proses pembelajaran pegawainya. Secara pribadipun makin banyak orang yang bersedia mengeluarkan uang dari kantong pribadinya untuk ikut seminar dan pelatihan pengembangan diri dan kompetensi.

Munculnya sejumlah nama kondang sebagai pembicara publik dan trainer di tingkat nasional telah mengangkat citra profesi yang dua dekade silam masih samar-samar terdengar. Sebut saja sejumlah nama besar seperti Hermawan Kartajaya, Handi Irawan, Gede Prama, Rhenald Kasali, Mario Teguh, RH Wiwoho, Jansen H. Sinamo, Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Anthony Dio Martin, Arvan Pradiansyah, dan sebagainya. Masing-masing membangun brand-nya sendiri, entah sebagai World Marketing Guru, Motivator No.1 Indonesia, Guru Etos Indonesia, Indonesia’s Favorite Trainer, Pelatih Sukses No.1, Pakar Perubahan, dan lain-lain. Wajah, suara, karya tulis mereka terlihat, terdengar, dan terpampang di berbagai media cetak (koran, majalah) maupun elektronik (televisi, radio, handphone, dan internet).

Melihat kiprah nama-nama besar itu dijagat nasional, mulai banyak orang muda yang kepincut untuk bisa mencantumkan namanya sebagai trainer atau pembicara publik tingkat nasional. Penampilan fisik para trainer dan pembicara publik itu umumnya mengesankan bahwa mereka memperoleh imbalan finansial yang tidak kecil atas jasa yang diberikannya. Sebagian orang menjadi sangat yakin bahwa profesi trainer dan pembicara publik telah hadir dan pantas dijadikan cita-cita bagi kaum muda Indonesia. Dengan honor bicara sangat variatif, dari sekadar pengganti uang bensin Rp 500.000,- sampai dengan Rp 70.000.000,- untuk sekali bicara antara 50 menit sampai 8 jam, profesi ini menjadi pantas untuk diperhitungkan.

Sebagai Trainer Coach yang dianggap senior oleh kawan-kawan, saya sering ditanyai orang: sesungguhnya berapa besar sih potensi penghasilan yang bisa diharapkan oleh seorang trainer atau pembicara publik pemula di Indonesia?; apa benar orang bisa menjadi miliarder dalam waktu relatif singkat melalui profesi ini?; mengapa sejumlah trainer dan pembicara publik yang cukup dikenal, rumah dan mobilnya nggak bagus-bagus amat, sementara yang lainnya benar-benar hidup berkelimpahan nampaknya?

Ketiga pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang definitif (pasti). Banyak faktor mesti dikaji dengan teliti untuk mendapatkan jawaban yang akurat. Namun bisa dikatakan bahwa antara trainer pemula dengan trainer madya, dan trainer senior memiliki rentang penghasilan yang sangat lebar. Latar belakang seorang trainer bisa amat menentukan potensi penghasilan yang akan diperolehnya. Mereka yang berlatang belakang akademis akan berbeda dengan mereka yang berlatar belakang sebagai pebisnis atau manajemen puncak perusahaan terkemuka. Mereka yang bermain di sektor privat (perusahaan) akan berbeda pula dengan mereka yang terjun ke sektor publik (media massa, BUMN, pemerintah, dan organisasi politik).

Segala macam perbedaan itu terutama terjadi karena Indonesia memang belum memiliki semacam lembaga yang punya otoritas untuk menetapkan standar honor seorang trainer dan pembicara publik. Atas kenyataan ini ada kawan-kawan yang sedang berjuang untuk membentuk asosiasi pembicara atau asosiasi trainer dan sejenisnya untuk mengatur hal semacam ini dengan meniru apa yang sudah ada di negara lain. Sementara sebagian kawan yang lain berpendapat lembaga semacam ini memang tidak diperlukan dan biarlah pasar saja yang menyeleksinya secara alamiah.

Meski tidak ada patokan baku yang bisa digunakan untuk menentukan kisaran penghasilan seorang trainer pemula, namun secara “sembrono” saya suka mengatakan profesi trainer membuka peluang untuk memiliki penghasilan dalam rentang Rp 70 juta sampai Rp 7 miliar per tahun. Angka ini tidak jauh berbeda dengan profesi lain yang juga baru hadir di Indonesia dalam satu dekade terakhir, yakni: Financial Planner. Sebab sebagian Financial Planner yang saya kenal secara pribadi memainkan peran juga sebagai trainer dalam soal perencanaan keuangan.

Bisakah seseorang menjadi miliarder secara cepat lewat profesi trainer? Ini bergantung pada “seberapa cepat” yang dimaksud. Bila cepat itu diartikan dalam hitungan hari, mungkin tidak masuk akal. Namun jika cepat itu diartikan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, secara umum saya asumsikan bisa walau tidak mudah. Yang paling mungkin adalah menjadi miliarder baru dengan menekuni profesi trainer selama kurang lebih 10-15  tahun.

Sependek pengetahuan saya, tidak semua trainer, yang namanya relatif terkenal sekalipun, memiliki penghasilan tahunan sampai 10 digit (miliaran). Sementara gaya hidup mereka pun sangatlah bervariasi. Ada trainer yang cukup kondang namun tidak punya rumah, meski punya uang lebih dari satu miliar di salah satu cabang Bank BCA. Dengan tekad mengumpulkan uang satu miliarnya yang pertama, trainer tersebut untuk sementara waktu memilih tinggal di rumah kontrakkan, dan menggunakan jasa transportasi umum untuk bepergian. Ada juga trainer yang punya rumah dan mobil mewah bahkan sebelum ia menekuni profesi sebagai trainer, sebab ia memiliki bisnis lain.

Akhirnya, berapapun penghasilan yang mungkin dicapai oleh seorang trainer di Indonesia, tulisan ini ingin menegaskan bahwa ia telah hadir sebagai profesi yang pantas untuk diperhitungkan.
Ada yang tertarik?

————————————————————————————————-
Catatan khusus: profesi trainer (pelatih) dan public speaker (pembicara publik) sesungguhnya tidaklah sama persis. Ada sejumlah perbedaan yang bisa dikemukakan, namun untuk kepentingan tulisan kali ini, keduanya saya anggap sama dalam arti sama-sama menawarkan jasa bicara. Saya akan membahas perbedaannya nanti dalam tulisan tersendiri.
————————————————————————————————-

*) Artikel ini merupakan bagian dari konsep materi yang disampaikan dalam pelatihan MENJADI TRAINER ANDALAN

Sudah dilihat sebanyak: 32

Next Page »