ANDRIAS HAREFA

Info: 021-2210 3478; Manager: 0815 8963 889

ANDRIAS HAREFA

Trainerpreneur

Articles

Belum lama berselang saya terpesona oleh konsep dan pengertian dari sebuah istilah yang baru saya kenal: mikropreneur. Setelah membaca beberapa uraian mengenai istilah tersebut, saya kira kata “mikropreneur” dapat dipergunakan untuk menjelaskan fenomena maraknya sebuah profesi yang untk mudahnya saya sebut dengan istilah trainerpreneur.

Dari studi sederhana yang sempat saya lakukan, pengertian mikropreneur menunjuk kepada seorang entrepreneur yang mau menerima risiko untuk memulai dan mengelola jenis usaha yang akan tetap kecil (skala tertentu), yang memungkinkan dirinya memilih pekerjaan yang memang ia sukai, dan membuatnya bisa menjalankan gaya hidup seimbang sesuai nilai-nilai yang ia yakini.

Perbedaan antara mikropreneur dengan pegawai negeri maupun swasta pada umumnya terletak dalam sedikitnya enam hal. Pertama, mikropreneur fokus pada peluang, bukan pada rasa aman. Kedua, ia fokus pada apa yang laku di pasar, bukan pada apa yang ia ketahui. Ketiga, ia berorientasi pada hasil, bukan pada menjalankan rutinitas. Keempat, ia memikirkan soal perolehan keuntungan, bukan pada peroleh gaji tetap. Kelima, mikropreneur senang mencoba ide-ide baru, bukan pada usaha menghindari kesalahan. Dan keenam, ia terpesona terhadap suatu visi jangka panjang, bukan pada kenikmatan jangka pendek.

Jelas bahwa mikropreneur bukan pegawai. Namun bagaimana ia dibedakan dengan apa yang galib disebut sebagai entrepreneur?

Perbedaan mikropreneur dengan entrepreneur dalam pengertian konvensional sedikitnya nampak dalam tiga hal. Pertama, mikropreneur bukanlah pengambil risiko yang besar. Ia bukanlah orang sehebat Ir. Ciputra yang sejak muda berambisi besar untuk mengubah wilayah tandus menjadi kota, mengubah sampah menjadi emas. Ia juga bukan orang seperti Mochtar Ryadi dan anak cucunya yang memiliki nyali luar biasa untuk mengambil risiko-risiko raksasa. Mikropreneur mengambil risiko tertentu juga, tetapi dalam skala yang relatif kecil.

Perbedaan kedua adalah soal motivasi. Motivasi utama seseorang memilih jalur menjadi mikropreneur adalah pertama-tama dan terutama kebebasan. Ambisinya kepada kebebasan lebih besar ketimbang ambisi terhadap kekayaan finansial. Ini disebabkan oleh pilihan nilai-nilai tertentu yang dianutnya. Misalnya, sejumlah kawan di Jakarta memilih menjadi mikropreneur semata-mata karena mereka tidak ingin menghabiskan waktu 3-4 jam sehari di jalanan yang macet setiap hari. Mereka ingin punya waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain yang disukainya; atau lebih memberikan waktu untuk pasangan hidup, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya. Pada satu sisi mereka merasa bekerja sebagai pegawai di Jakarta—dengan tempat tinggal yang terletak jauh dari kantor, dan pertumbuhan penghasilan yang berkejaran dengan inflasi—adalah pilihan yang tidak rasional. Belum lagi soal rutinitas pekerjaan yang tidak memberikan tantangan bagi pertumbuhan mental-emosional-spiritualnya. Pada sisi lain, mereka sebenarnya tidak bercita-cita besar untuk menjadi konglomerat atau taipan yang memimpin usaha skala nasional dan internasional. Posisi mikropreneur terjepit di antara pegawai dan entrepreneur skala besar.

Perbedaan ketiga harus ditambahkan sebagai bagian yang tak terpisahkan, bahwa mikropreneur adalah seorang yang terpelajar. Meski mereka belum tentu orang yang memiliki banyak gelar akademis, namun mikropreneur adalah orang yang senang belajar dan karenanya pro-perubahan. Karena itu jenis usaha yang dilakukan oleh mikropreneur umumnya lebih mengandalkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang memang diminatinya. Mereka terus belajar meningkatkan kompetensinya dan menghasilkan karya-karya yang menunjukkan ciri-ciri hakiki dari kaum terpelajar.

Berdasarkan pemahaman di atas, saya menggunakan istilah trainerpreneur untuk menunjuk kepada mikropreneur yang menekuni bidang pelatihan. Sebab trainerpreneur memenuhi semua ciri dari apa yang disebut mikropreneur itu. Mereka bukan pegawai karena mereka fokus pada peluang; menyimak pada apa yang laku di pasar; berorientasi pada hasil; memikirkan soal perolehan keuntungan; senang mencoba ide-ide baru; terpesona terhadap suatu visi jangka panjang yang menyangkut peran mereka dalam membangun manusia-manusia Indonesia yang lebih baik.

Trainerpreneur bukan entrepreneur dalam pengertian konvensional, sebab mereka bukan pengambil risiko besar; mereka mengutamakan kebebasan di atas keberhasilan finansial; dan tentu saja mereka senang belajar. Seorang entrepreneur belum tentu bisa dan belum tentu berminat untuk memainkan peranan sebagai trainerpreneur, demikian juga sebaliknya.

Dalam pengamatan saya, profesi sebagai trainerpreneur tumbuh dan berkembang di Indonesia hampir bersamaan dengan munculnya profesi perencana keuangan, yakni dalam satu dekade terakhir, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru. Bak cendawan di musim penghujan, makin banyak orang tertarik untuk menjadi trainer dan pembicara. Media cetak dan elektronik juga mulai memberikan tempat khusus terhadap mereka yang berkecimpung dalam bidang ini. Kolom-kolom di media cetak, unjuk bicara di radio dan televisi semakin marak dengan kehadiran mereka.

Sudah bertahun-tahun saya memikirkan cara untuk mendorong munculnya trainerpreneur-trainerpreneur baru di negeri ini. Sebab saya berkeyakinan bahwa kehadiran mereka akan memberikan dampak positif bagi pembangunan manusia-manusia Indonesia dalam jangka panjang. Dan akhirnya saya menemukan kawan seiring untuk bekerjasama dalam soal ini: Hari Subagya. Lewat program Train and Grow Rich yang dirintisnya tahun 2008 lalu, kami memutuskan untuk mulai bergerilya memasarkan profesi trainerpreneur di tahun-tahun mendatang.

*Andrias Harefa
The Real Indonesian Trainer
Penulis 30 Buku Best-seller

2 Comments on “Trainerpreneur”

  1. Pak, melihat beberapa buku pak andreas harefa, sungguh luar biasa..
    saya apengen bertanya berapa harga pelathihan-pelatihan pak andreas..seperti Trainerpreneur.Training of trainer

  2. Accidentally, saya kepikiran istilah yang sama, trainerpreneur, yang saya cantumkan dalam tulisan blog saya, kemudian googling di internet, dan menemukan sebuah serendipity, bahwa Pak Andreas Harefa telah lebih dulu mempopulerkan istilah yang sama, ajaib, apa yang Pak Harefa kupas dalam tulisan ini ngena banget dengan saya, mohon izin turut berpartisipasi dan berkontribusi mempopulerkan istilah ini pak, “Trainerpreneur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *